SketsaNusantara.id - Fenomena benda bercahaya yang melintas di langit Lampung sempat membuat geger warga pada Sabtu malam, 4 April 2026.
Banyak yang mengira itu batuan angkasa atau meteor jatuh ke Bumi, bahkan tak sedikit yang mengaitkannya dengan eskalasi konflik Timur Tengah yang ikut memicu kekhawatiran masyarakat.
Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa benda langit misterius yang melintas mirip meteor tersebut adalah space debris atau sampah antariksa.
Lebih lanjut, BRIN menjelaskan bahwa benda bercahaya yang melintas di langit Lampung diduga berasal dari pecahan sisa roket China CZ-3B yang melintas dari arah India menuju Samudera Hindia di pantai barat Sumatera.
Dalam video yang beredar, tampak pecahan sampah antariksa itu terpecah menjadi beberapa bagian kecil dan terbakar saat masuk ke atmosfer bumi.
Peristiwa ini menjadi perbincangan hangat di media sosial yang kembali membuka mata publik bahwa sampah antariksa tak bisa dianggap sepele, bahkan berpotensi menimbulkan bahaya jika partikel luar angkasa itu menghantam permukaan bumi.
Dilansir SketsaNusantara.id dari laman resmi BRIN, dijelaskan bahwa sampah antariksa (space debris) adalah sisa-sisa benda buatan manusia yang sudah tidak berfungsi dan tetap mengorbit Bumi.
Benda tersebut bisa berupa satelit mati, bagian pecahan roket, hingga serpihan kecil hasil tabrakan di luar angkasa. Menurut data yang dihimpun berbagai lembaga antariksa, jumlahnya bahkan lebih dari 30.000 objek besar terlacak, belum termasuk jutaan serpihan kecil yang sulit dideteksi.
Berikut sederet fakta menarik yang jarang diketahui mengenai sampah antariksa yang belakangan ini cukup sering terlihat melintas di langit Indonesia.
1. Jumlah Space Debris Melimpah di Luar Angkasa
Puluhan ribu objek sampah antariksa mengorbit Bumi, mulai dari satelit rusak hingga pecahan roket. BRIN menjelaskan bahwa sampah antariksa bisa jatuh ke permukaan bumi karena dipengaruhi gaya gravitasi.
"Ada sampah antariksa seperti bekas satelit komunikasi/satelit meteorologi pada ketinggian 36.000 km akan tetap berada di orbitnya. Tetapi yang orbit rendah dibawah 1000 km akan mengalami efek pengeremen atmosfer sehingga makin lama makin turun ketinggiannya dan jatuh," ungkap Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin.
Artikel Terkait
Heboh Benda Bercahaya Terang Disertai Dentuman Keras Diduga Meteor Jatuh di Langit Cirebon, Begini Tanggapan BMKG hingga Penjelasan dari Peneliti BRIN
Geger Bola Api dan Dentuman Keras di Cirebon, BMKG-BRIN Kompak Ungkap Penyebabnya, Minta Masyarakat Tak Panik
Kenapa Disebut Blood Moon? Ini Penjelasan BRIN soal Penyebab Bulan Berwarna Merah saat Gerbana Bulan Total 3 Maret 2026
NASA Rilis Foto Perbandingan Bumi di Tahun 1969 dan 2026, Simak Perbedaan yang Mencolok Potret Bumi Dulu dan Sekarang
Ahli Astronomi Ungkap Dugaan Benda Bercahaya yang Melintas di Langit Lampung: Bukan Komet