“Transformasi tata kelola publik adalah proses berkelanjutan. Program MBG mungkin masih membutuhkan penyempurnaan, namun penting untuk melihat nilai strategisnya secara objektif,” katanya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak terburu-buru menilai negatif kebijakan tersebut. Menurutnya, pendekatan berbasis disiplin dan akuntabilitas ini justru menjadi investasi jangka panjang dalam membangun sistem layanan gizi yang berkualitas dan berkelanjutan.
Dengan penerapan prinsip “no service, no pay”, BGN ingin memastikan bahwa setiap rupiah anggaran negara benar-benar menghasilkan layanan terbaik bagi masyarakat. Program MBG diharapkan tidak hanya berjalan luas, tetapi juga berkualitas dan aman bagi seluruh penerima manfaat di Indonesia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Polemik MBG Memanas, Lita Gading Sentil Hendrik Irawan soal Video Joget dan Laporan Polisi yang Jadi Sorotan
Fakta Terbaru Pria Viral Joget di MBG, Punya 7 Dapur SPPG tapi Baru 1 Berjalan, BGN Tegaskan Ini Bukan Bisnis
Di Tengah Sorotan Kualitas MBG, Kepala BGN Tantang Menu Bintang 5 Harga Rp10 Ribu
Kontroversi Nilai Gizi MBG Ramadhan, Angka Protein Dimsum Dipertanyakan hingga Viral di Media Sosial
Buntut Konten Joget di Dapur MBG, SPPG Milik Hendrik Irawan Resmi Dihentikan, Ini Tanggapannya...