SketsaNusantara.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerbitkan peringatan dini terkait siklus iklim tahun ini, Senin 9 Maret 2026.
Berdasar analisis terbaru, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan memasuki musim kemarau pada 2026 lebih awal dari rata-rata biasanya. Fenomena ini dipicu oleh berakhirnya fase La Niña pada Februari lalu, yang kini telah bergeser ke kondisi Netral.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 dan diperkirakan tetap stabil hingga Juni 2026.
Baca Juga: BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncaknya Agustus dan Cenderung Lebih Kering
Namun, masyarakat diminta tetap waspada karena terdapat peluang sebesar 50-60% munculnya fenomena El Niño kategori Lemah-Moderat pada semester kedua tahun ini.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci bahwa transisi musim ini ditandai dengan beralihnya Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia).
“Tercatat, sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki kemarau pada April 2026, meliputi pesisir utara Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi,” ujarnya.
Lalu, sebanyak 184 ZOM (26,3%) menyusul pada bulan Mei, dan 163 ZOM (23,3%) pada Juni. Secara nasional, puncak musim kering diperkirakan jatuh pada Agustus 2026, mencakup 429 ZOM (61,4 persen wilayah).
Menariknya, kemarau tahun ini diprediksi akan terasa lebih kering dari biasanya. Sebanyak 451 ZOM (64,5 persen) akan mengalami curah hujan di bawah normal.
“Hanya sebagian kecil wilayah di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih basah (di atas normal),” imbuhnya.
Menghadapi risiko kekeringan ini, BMKG menekankan pentingnya langkah antisipasi (early action) dari pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat luas.
“Pada Sektor Pertanian, petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus panen yang lebih singkat,” ungkapnya.
Artikel Terkait
Suhu Panas hingga 37 Derajat Landa Sejumlah Wilayah di Indonesia, Ini Penyebabnya Kata BMKG: Pengaruh dari...
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem di Jawa Timur Akibat Gelombang Atmosfer MJO, Equatorial Rossby hingga Gelombang Kelvin, Ini Penjelasannya
Badai Geomagnetik Kuat Kembali Menghantam Bumi, BMKG Jelaskan Penyebab hingga Dampaknya bagi Indonesia, Benarkah Jadi Pemicu Cuaca Ekstrem?
BNPB Ungkap Banyak Pemda Tidak Siap Hadapi Bencana, Padahal BMKG Sudah Beri Warning 8 Hari sebelum Banjir dan Longsor Sumatera Terjadi
Heboh Fenomena Langit Merah Darah di Pandeglang Banten, Bikin Warga Resah hingga Dianggap Jadi Pertanda Datangnya Bencana, Begini Penjelasan BMKG
5 Fakta Gempa Taiwan 7,0 Magnitudo, Terasa hingga Taipei, Penyebab dan Pernyataan BMKG Soal Potensi Tsunami di Indonesia
Pasca Kapal Wisata KM Putri Sakinah Tenggelam, BMKG Kembali Ingatkan Publik Peringatan Gelombang Tinggi di Labuan Bajo
5 Fakta Gempa Pacitan yang Terasa hingga Bali dan Yogyakarta, Pernyataan BMKG, Penyebab serta Dampak Kerusakan
Penjelasan BMKG Terkait Gempa 6,4 SR yang Mengguncang Pacitan: Termasuk Megathrust Jawa dan Tidak Berpotensi Tsunami hingga Terjadinya Gempa Susulan
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncaknya Agustus dan Cenderung Lebih Kering