Sabtu, 18 Juli 2026

Berkaca dari Kasus Influencer Belvin Tannadi yang Kena Sanksi OJK, Apa itu Praktik 'Goreng Saham' dan Bagaimana Dampaknya Bagi Masyarakat Luas?

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 21 Februari 2026 | 19:00 WIB
Ilustrasi pasar saham yang rusak akibat praktik 'goreng saham' yang secara tidak langsung berdampak pada perekonomian masyarakat (Pexels/Iam Hoghir)
Ilustrasi pasar saham yang rusak akibat praktik 'goreng saham' yang secara tidak langsung berdampak pada perekonomian masyarakat (Pexels/Iam Hoghir)

SketsaNusantara.id - Kasus dugaan manipulasi saham yang menyeret nama influencer saham, Belvin Tannadi menjadi pengingat penting bagi masyarakat, khususnya bagi para investor ritel.

Belvin Tannadi alias (BVN) dijatuhi sanksi sebesar Rp 5,35 miliar oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) karena diduga melakukan praktik "goreng saham" atau pump and dump.

Lalu, apa sebenarnya goreng saham itu, bagaimana mekanismenya serta apa dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat luas?

Baca Juga: IHSG Anjlok, BEI Berlakukan Trading Halt, Apa Itu? Begini Penyebab, Cara Kerja hingga Dampaknya Bagi Investor Saham

Apa Itu Goreng Saham?

Dilansir SketsaNusantara.id dari situs Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), praktik "goreng saham" pada umumnya merupakan upaya mengerek harga saham secara tidak wajar agar terlihat menarik.

Biasanya, pelaku membeli saham di harga rendah terlebih dahulu ayau yang dikenal dengan istilah "pump". Setelah itu, ia menyebarkan sentimen positif yang bisa dilakukan lewat rekomendasi, analisis, atau narasi optimistis di media sosial dengan tujuan agar banyak investor lain ikut membeli saham tersebut.

Ketika permintaan meningkat, harga saham pun terdorong naik. Namun, di titik itulah pelaku menjual sahamnya untuk meraup keuntungan.

Baca Juga: Geram! Luhut Binsar Pandjaitan Bantah Tuduhan Punya Saham di PT Toba Pulp Lestari, Desak Presiden Cabut Izin Usaha TPL karena Rusak Lingkungan

Setelah "dibuang" (dump), harga saham sering kali turun drastis karena tidak lagi didukung permintaan yang kuat. Akibatnya, investor yang terlambat menjual justru menanggung kerugian.

Dalam banyak kasus, yang paling terdampak adalah investor ritel, termasuk masyarakat atau pemula yang baru belajar investasi atau mengandalkan rekomendasi dari media sosial.

Banyak pemula yang membeli saham karena percaya pada figur yang dianggap paham pasar, seperti para influencer saham.

Baca Juga: Investasi Mudah di Jember, Super Indo Komitmen Serap Tenaga Kerja Lokal dan Kembangkan UMKM

Namun ketika harga anjlok, kerugian harus ditanggung sendiri. Uang yang digunakan sering kali adalah tabungan pribadi, dana pendidikan, bahkan dana darurat keluarga yang akhirnya terkuras akibat keputusan investasi yang terburu-buru.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X