Sabtu, 18 Juli 2026

Adaptasi Metode dari Swiss dan Jepang, Ferry Irwandi Usulkan Penanganan Puing Kayu Sisa Banjir untuk Pemulihan Pascabencana di Sumatera

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Senin, 22 Desember 2025 | 08:30 WIB
Potret Ferry Irwandi usulkan penanganan puing kayu yang menghambat proses penyaluran logistik sekaligus jadi solusi pemulihan berkelanjutan pasca banjir di Sumatera (Instagram/irwandiferry)
Potret Ferry Irwandi usulkan penanganan puing kayu yang menghambat proses penyaluran logistik sekaligus jadi solusi pemulihan berkelanjutan pasca banjir di Sumatera (Instagram/irwandiferry)

SketsaNusantara.id - Aktivis kemanusiaan Ferry Irwandi menyampaikan analisis sekaligus saran penanganan pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Ferry menjelaskan bahwa salah satu masalah utama yang menghambat pemulihan pascabencana adalah menumpuknya puing-puing gelondongan kayu (driftwood) yang terbawa arus banjir.

Menurut Ferry, berdasarkan sudut pandang ilmu fluida dan hidrodinamika, batang kayu yang terbawa arus dapat meningkatkan gaya tumbukan dan hambatan aliran air hingga beberapa kali lipat dibandingkan air saja.

Kondisi inilah yang dinilai menjadi salah satu penyebab utama rusaknya jembatan, terhambatnya akses jalan, serta tersendatnya distribusi logistik bantuan ke wilayah terdampak.

Baca Juga: Chiki Fawzi Sentil Menteri LH soal 'Segelintir' Gelondongan Kayu di Sumatra, Putri Marissa Haque Tetap Bersuara Meski Ramai Diserang Buzzer

"Semalam belajar ulang soal fluide, hipotesis gue sejauh ini, yang menghancurkan jembatan itu bukan cuma deras airnya saja tapi batang kayu besar yang dibawa," tulis Ferry Irwandi dikutip SketsaNusantara.id dari akun Instagram @irwandiferry.

"Secara hidrodinamika, batang kayu-kayu besar yang terbawa arus itu meningkatkan drag force (gaya hambat) dan impact load (beban benturan) yang menciptakan beban dan tekanan tambahan, terutama di titik-titik sempit seperti jembatan dan tikungan sungai," tuturnya

Berdasarkan pengamatan dari ratusan citra udara aliran sungai di Sumatera, Ferry menyebut banyak daerah aliran sungai (DAS) memiliki karakter hulu yang curam dengan material banjir campuran berupa air, sedimen, batu, dan kayu.

Ditambah lagi, keberadaan infrastruktur seperti jembatan dengan bukaan sempit dan banyak pilar justru menciptakan bottleneck yang memperparah dampak banjir bandang.

Baca Juga: Rayakan Ulang Tahun di Lokasi Bencana, Ferry Irwandi Tetap Jadi Relawan dan Salurkan Bantuan di Sumatra

"Bottleneck buatan, bukaan sempit tidak ramah secara hidrolika, begitu alirannya ketahan langsung dampaknya ke warga. Strategi efektif mengurangi kayu tadi ketemu di bottleneck ini dan dari beberapa negara yang gue riset, karakter ini paling mirip Swiss dan apa yang mereka lakukan bisa kita adaptasi," ucap Ferry.

"Penanganan ini udah ada best practice, karena itu terjadi banyak di negara lain, tapi ya itu harus hybrid dengan keadaan kita sekarang," imbuhnya.

Sebagai solusi, Ferry mengusulkan pendekatan atau metode yang pernah diterapkan di sejumlah negara seperti Swiss dan Jepang.

 

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Sumber: Instagram @irwandiferry

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X