SketsaNusantara.id - Aktivis kemanusiaan Ferry Irwandi menyampaikan analisis sekaligus saran penanganan pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Ferry menjelaskan bahwa salah satu masalah utama yang menghambat pemulihan pascabencana adalah menumpuknya puing-puing gelondongan kayu (driftwood) yang terbawa arus banjir.
Menurut Ferry, berdasarkan sudut pandang ilmu fluida dan hidrodinamika, batang kayu yang terbawa arus dapat meningkatkan gaya tumbukan dan hambatan aliran air hingga beberapa kali lipat dibandingkan air saja.
Kondisi inilah yang dinilai menjadi salah satu penyebab utama rusaknya jembatan, terhambatnya akses jalan, serta tersendatnya distribusi logistik bantuan ke wilayah terdampak.
"Semalam belajar ulang soal fluide, hipotesis gue sejauh ini, yang menghancurkan jembatan itu bukan cuma deras airnya saja tapi batang kayu besar yang dibawa," tulis Ferry Irwandi dikutip SketsaNusantara.id dari akun Instagram @irwandiferry.
"Secara hidrodinamika, batang kayu-kayu besar yang terbawa arus itu meningkatkan drag force (gaya hambat) dan impact load (beban benturan) yang menciptakan beban dan tekanan tambahan, terutama di titik-titik sempit seperti jembatan dan tikungan sungai," tuturnya
Berdasarkan pengamatan dari ratusan citra udara aliran sungai di Sumatera, Ferry menyebut banyak daerah aliran sungai (DAS) memiliki karakter hulu yang curam dengan material banjir campuran berupa air, sedimen, batu, dan kayu.
Ditambah lagi, keberadaan infrastruktur seperti jembatan dengan bukaan sempit dan banyak pilar justru menciptakan bottleneck yang memperparah dampak banjir bandang.
"Bottleneck buatan, bukaan sempit tidak ramah secara hidrolika, begitu alirannya ketahan langsung dampaknya ke warga. Strategi efektif mengurangi kayu tadi ketemu di bottleneck ini dan dari beberapa negara yang gue riset, karakter ini paling mirip Swiss dan apa yang mereka lakukan bisa kita adaptasi," ucap Ferry.
"Penanganan ini udah ada best practice, karena itu terjadi banyak di negara lain, tapi ya itu harus hybrid dengan keadaan kita sekarang," imbuhnya.
Sebagai solusi, Ferry mengusulkan pendekatan atau metode yang pernah diterapkan di sejumlah negara seperti Swiss dan Jepang.
Artikel Terkait
Ferry Irwandi Kembali ke Jakarta Usai Bertugas di Lokasi Banjir Bandang: Stok Obat Habis dan Kondisi Kesehatan Membuatnya Tak Ingin Jadi Beban
Ferry Irwandi Terima Maaf Anggota DPR RI Usai Disindir 'Sok Paling Kerja' Saat Bantu Korban Bencana, Minta Publik Fokus Beri Dukungan untuk Sumatera
Disinggung Soal Pejabat yang Mengatakan ‘Cuma Nyumbang Rp10 Miliar, Negara Sudah Triliunan’, Ferry Irwandi: Gue Malah Ngerasa…
Ferry Irwandi Paparkan Prioritas Logistik Aceh 2025 dan Pentingnya Makanan Siap Makan bagi Korban Bencana
Anggota Dewan Persoalkan Warga yang Manfaatkan Kayu Gelondongan Sisa Banjir Sumatera, Benarkah Termasuk Pelanggaran Hukum? Begini Penjelasan Para Ahli
Warga Bantu Warga, Masyarakat Ranah Minang Salurkan Bantuan 1 Ton Rendang ke Aceh dan Sumatera Utara, Meski Sama-Sama Terdampak Bencana Banjir