SketsaNusantara.id - Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan meluncurkan buku sejarah baru Indonesia.
Buku ini menjadi bagian dari program penulisan ulang sejarah nasional. Peluncuran dilakukan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Buku berjudul Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global tersebut disusun dalam sepuluh jilid. Total halaman yang dihasilkan mencapai 7.958 halaman.
Penulisan melibatkan ratusan akademisi dari berbagai latar belakang keilmuan sejarah.
Program penulisan ulang sejarah Indonesia mulai dikerjakan sejak Januari 2025. Proyek ini merupakan arahan langsung dari Menteri Kebudayaan.
Penulisan dilakukan secara kolaboratif oleh para sejarawan dari berbagai daerah.
Fadli Zon menyampaikan proyek tersebut melibatkan 123 penulis. Mereka berasal dari 34 perguruan tinggi di Indonesia.
Selain itu, terdapat 11 lembaga non-perguruan tinggi yang ikut terlibat dalam proses penulisan.
Menurut Fadli, penulisan buku sejarah ini tidak berkaitan dengan kepentingan politik tertentu.
Ia menyebut proyek tersebut dirancang untuk kepentingan bangsa dan negara. Kritik yang muncul sejak awal penulisan disebut sebagai hal yang biasa.
“Saya kira jika terjadi perbedaan pendapat, itu satu hal yang sangat biasa dan saya kira harus kita apresiasi sebagai bagian dari demokrasi kita. Tinggal bagaimana kita lihat, dan harus dibaca dulu baru kita berkomentar,” kata Fadli, Minggu 14 Desember 2025.
Fadli juga memastikan proses penulisan tidak melibatkan intervensi pemerintah. Buku ini ditulis sepenuhnya oleh para sejarawan.
Artikel Terkait
Fadli Zon dan Pemerkosaan Massal 1998: Menyangkal Fakta untuk Wajah Baru Sejarah Indonesia
Disorot Publik, Fadli Zon Tegaskan Kasus Pemerkosaan Massal 1998 Harus Berdasarkan Bukti Kuat dan Legal
Klarifikasi Fadli Zon Menyangkut Tragedi Perkosaan Massal 1998, Singgung Laporan TGPF Kurang Data
Ita Fatia, Aktivis Perempuan Pendamping Korban Pemerkosaan Massal 1998 Diteror, Gara-gara Kritik Fadli Zon? Netizen: Anti Orba tapi...
Enggan Meminta Maaf Atas Penyataannya yang Meragukan Kasus Pemerkosaan Massal pada Kerusuhan Mei 1998, Fadli Zon Persilahkan Masyarakat Beda Pendapat