Baca Juga: Penemuan Fenomenal, Fosil Gajah Purba 800.000 Tahun Ditemukan di Nganjuk oleh Tim Badan Geologi
Musisi putri Adrie Subono itu juga menyampaikan permintaan maaf, sekaligus menyinggung potongan kayu yang menghimpit tubuh sang gajah.
Ia menilai mustahil kayu-kayu tersebut "tumbang secara alami", melihat bentuknya rapi seperti hasil pembabatan hutan yang selama ini dilakukan tanpa kendali dan menjadi salah satu faktor penyebab bencana.
"Banyak manusia meninggal karena, entahlah. Jangan lupa ceritain tentang Pohon yang DIA ciptakan untuk apa sebenernya dan sekarang jumlahnya tinggal sedikit (katanya tumbang secara alami dalam potongan-potongan kayu yang rapih lalu kebawa banjir)," kata Melanie.
"Ucapin maaf kami ke keluargamu ya, dari kami yang masih nggak mikir matang saat milih di pileg (pemilu legislatif), atau pil pil pil apalah itu," tandasnya.
Melanie juga menyayangkan aktivitas pengangkutan batang pohon yang masih terus beroperasi di tengah bencana yang belum reda.
"Gue nemu berita di medsos, video TRUK2 pengangkut POHON2 yang ditebang UDAH MULAI beroperasi lagi padahal bencana belum abis. Beberapa detik setelah nemu berita ini, gue teriak sambil nangis," tulis Melanie.
Dalam unggahannya, Melanie menegaskan bahwa dirinya tidak sedang membandingkan nilai nyawa manusia dengan satwa. Namun, ia menyoroti akar masalah yang menyebabkan keduanya menjadi korban akibat kerusakan alam.
Cucu mendiang BJ Habibie juga ikut membuka donasi melalui Rumah Harapan Melanie yang ikut terjun langsung menyalurkan bantuan untuk masyarakat terdampak bencana di Sumatera.
"Mau nulis gini kok nanti orang salah mikir kenapa cuma post gajahnya, manusianya kan banyak yang meninggal juga," sambungnya.
"Gue lagi ga punya tenaga jelasin apa yang gue maksud. Gue rasa kalian tau, gue selama ini berdiri diatas kemanusiaan kok, Rumah Harapan Melanie juga ikut gerak disana dari hari pertama," pungkasnya.
Unggahan Melanie Subono mendapat dukungan luas dan seketika komentar warganet di media sosial. Banyak yang menilai bencana besar di Aceh hingga Sumatera Barat ini tidak semata-mata akibat curah hujan ekstrem, tetapi juga diperparah oleh maraknya penebangan hutan, illegal logging, dan pembukaan lahan yang tidak terkendali.
Kayu-kayu gelondongan yang berserakan di lokasi banjir memperkuat dugaan masyarakat bahwa kerusakan ekosistem hutan berperan besar dalam memperparah terjadinya bencana.
Artikel Terkait
Kisruh Konflik Lahan di Taman Nasional Tesso Nilo, Kapolda Riau Tegas Bersuara Bela Hak Gajah, Tokoh Adat Ikut Dukung Penertiban Kawasan Hutan TNTN
4 Fakta TN Tesso Nilo di Riau, Kawasan Konservasi Gajah yang Tergerus Sawit, Ternyata Habitat Potensial Harimau Sumatera!
Perjalanan Ajaib di Hutan Sumatera: Chris Thorogood Temukan Rafflesia hasseltii, Bunga Paling Langka di Dunia
Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Longsor di Sumatera Utara, Jalur Darat Lumpuh dan BNPB Targetkan Pembukaan Akses dalam 1–2 Hari
Penggudulan Hutan di Sumatera Melonjak Tinggi Tahun 2024, Ratusan Ribu Hektar Hujan Primer Basah Hilang
Laporan BNPB Hari ke-4 Bencana Sumatera Utara: Kondisi Kota-Kota Terdampak, Fakta Akses Terputus, dan Upaya Menembus Longsoran Panjang