Konflik ini memasuki babak baru dengan diadakan audiensi yang digelar pada hari Kamis, 19 Juni 2025. Namun, suasana memanas antara aparat dan warga yang menuntut pengakuan atas lahan di kawasan hutan.
Kapolda Riau dengan tegas menyampaikan pernyataan yang menggugah hati. Ia tegas membela hak dan keadilan untuk satwa liar termasuk gajah Sumatra yang juga berhak untuk hidup di habitat aslinya.
"Saudara-saudara merasa kita ini tidak adil dan membuat masyarakat terpojok, warga merasa terdzalimi dan kehilangan hak. Saya berdiri di sini sebagai perwakilan dari Gajah," tegas Irjen Herry Heryawan, Kapolda Riau, dalam video yang diunggah akun @btn_tessonilo hari Jumat, 20 Juni 2025.
"Gajah-gajah itu tidak bisa ngomong, kalaupun mereka bisa ngomong pasti mereka bilang, 'kami dulu punya rumah tapi diganggu'," tuturnya.
"Oleh karena itu, kita kembalikan lagi fungsi lahan ini, karena idealnya TNTN ini untuk ekosistem, dan saya minta keadilan untuk gajah-gajah, mereka juga berhak hidup sama seperti kita," tandasnya.
Tesso Nilo mengapresiasi perkataan Kapolda Riau dan menjadi penegasan bahwa hukum harus berdiri tegak melindungi kepentingan bersama, termasuk makhluk hidup yang tak bisa bersuara termasuk gajah-gajah dan satwa liar lainnya.
"Bayangkan, kalau kita yang jadi gajah. Rumah kita di tengah hutan yang tenang, diwariskan turun-temurun. Tapi suatu hari, datang manusia," tulis pihak BTNTN dalam postingan Instagramnya.
"Mereka menebang pohon-pohon, menggantinya dengan kebun sawit, dan kami, para gajah, tak lagi punya tempat tinggal. Siapa yang lebih menyedihkan?" imbuhnya.
Dukungan Polda Riau datang sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan di TNTN, di mana luas hutan yang semula 83 ribu hektar kini menyusut menjadi hanya 12,5 ribu hektar akibat ekspansi ilegal, yang dijadikan perkebunan sawit.
Pemerintah juga terus melakukan segala upaya dengan berusaha menegakkan aturan konservasi untuk melindungi habitat satwa lain yang habitatnya terancam dalam upaya melestarikan lingkungan.
Sejumlah tokoh adat di Kabupaten Pelalawan Riau juga turut mendukung langkah pemerintah dan aparat yang berwajib dalam penertiban lahan di kawasan hutan Tesso Nilo.
Tak hanya itu, dukungan juga ramai diberikan warganet melalui media sosial hingga muncul tagar "Save Tesso Nilo". Warganet berharap konflik ini tak berlangsung lama.
Artikel Terkait
Skandal Tambang Nikel di Raja Ampat! Luas Konsesi PT Gag Nikel Dua Kali Pulau Gag, Ekosistem Laut Papua Terancam Punah
Bukan Cuma Raja Ampat, Ini Deretan Pulau Kecil di Indonesia yang Terancam Rusak akibat Tambang Meski Dilindungi Undang-undang
Menjelajahi Keindahan Wakatobi sebagai Taman Nasional Laut yang Kaya Akan Spesies Ikan dan Terumbu Karang
4 Pulau Dikembalikan Pada Aceh, Gubernur Sumatera Utara dan Gubernur Aceh Sampaikan Sikap Atas Keputusan Presiden Prabowo Subianto
Rieke Diah Pitaloka Apresiasi Langkah Prabowo Kembalikan Status Empat Pulau ke Provinsi Aceh, Ingatkan Untuk Terus Kawal: Perjuangan Belum Berakhir!
Geger Dua Pulau di Kabupaten Anambas Dijual di Situs Private Island Kanada, Netizen: Kalau Nggak Ditambang ya Dijual!