SketsaNusantara.id - Gudeg merupakan kuliner manis khas Yogyakarta yang berbahan utama nangka muda atau gori.
Dalam proses pembuatannya, Gudeg membutuhkan waktu tak sebentar.
Nangka muda tadi direbus dengan menggunakan gula merah dan santan dengan api kecil selama beberapa jam.
Biasanya Gudeg dimasak menggunakan periuk tanah liat di atas tungku kayu.
Konon, rasa gudeg yang dimasak dengan tungku dan alat tradisional lebih nikmat dibanding diolah dengan piranti modern.
Pengolahan gudeg yang membutuhkan waktu lama ini ternyata memiliki makna filosofis tersendiri.
Memasak gudeg menjadi cerminan sempurna tentang nilai ketenangan, kesabaran dan teliti serta tidak terburu-buru atau sembrono.
Sama dengan masakan lainnya, Gudeg biasanya disajikan bersama nasi dan lauk pendamping.
Seperti sambal goreng krecek, opor ayam, telur pindang, tempe atau tahu bacem.
Dilansir Sketsanusantara.id dari laman posspika.kemendikbud.go.id, Gudeg ternyata punya 2 jenis yang bisa ditemukan di Yogyakarta. Yaitu gudeg basah dan gudeg kering.
Gudeg basah biasanya disajikan dengan kuah santan. Sedangkan untuk Gudeg kering disantap tanpa kuah dan tampak lebih coklat.
Gudeg kering ini biasanya lebih tahan lama, bahkan bisa lebih dari 24 jam jika disimpan di lemari pendingin.