Orang tersebut adalah seorang pengembara lautan yang tengah terdampar di negeri tersebut yang bernama Abdul Rozak.
Baca Juga: 7 Kuliner Khas Yogyakarta yang Legendaris, Penggemarnya Tidak Pernah Surut Bahkan Sampai Sekarang
Abdul Rozak pun menghidangkan makanan khusus yang telah dibuatnya untuk sang raja dengan dibungkus menggunakan daun pisang dan mengatakan bahwa makanan itu aman karena sudah di cek oleh ahli kesehatan istana.
Raja Hanyakrawati pun langsung mencicipi makanan dari Abdul Rozak itu dan tidak disangka ternyata ia sangat menyukai makanan itu hingga memakannya dengan sangat lahap serta keringatnya terlihat bercucuran karena rasanya yang pedas.
Raja Hanyakrawati pun memberikan hadiah kepada Abdul Rozak berupa kapal mewah dan sebidang tanah, serta diangkat menjadi kepala juru masak istana.
Tetapi Abdul Rozak tidak serakah dan hanya mengambil kapal mewah saja yang akan dirinya gunakan untuk mengembara dan memberitahu resep masakan tersebut kepada sang raja.
Abdul Rozak akhirnya pergi mengembara dengan memakai kapal mewah itu dan singgah ke Tanjung Perak di Surabaya.
Ia mencoba untuk menyebarkan resep makanan yang sama kepada warga masyarakat yang tinggal di daerah Surabaya.
Tetapi ada satu masalah yang cukup menyulitkannya karena tidak ada cingur unta di daerah Surabaya, sehingga Abdul Rozak memutuskan untuk menggantinya dengan cingur sapi karena lebih mudah ditemukan di wilayah tersebut.
Setelah itu, banyak masyarakat Surabaya yang datang ke Abdul Rozak demi bisa mencicipi masakan yang terkenal enak itu.
Pengucapan kata Rozak bagi masyarakat Surabaya di masa itu terkesan lebih sulit di lidah, maka mereka pun menyebutnya dengan nama "Rujak Cingur".
Itulah tadi awal munculnya rujak cingur yang sampai sekarang menjadi makanan khas Kota Surabaya, Jawa Timur dan itu hanya diketahui dengan mitos dan cerita yang beredar di masyarakat.