jelajah

Bagongan: Bahasa Keraton Yogyakarta Berusia 7 Abad dan Hanya Punya 11 Kosakata, Benarkah Ciptaan Sultan Agung?

Sabtu, 6 Juli 2024 | 21:15 WIB
Mengenal asal usul Bahasa Bagongan (X/@kratonjogja)

 

SketsaNusantara.id - Sultan Agung merupakan raja ketiga Kesultanan Mataram Islam yang memimpin pada tahun 1593-1645.

Di bawah kepemimpinan Sultan Agung, Mataram Islam mencapai masa keemasan.

Hal ini membuat Sultan Agung sebagai salah satu raja Mataram dengan banyak peninggalan.

Baca Juga: Kalender Jawa: Penanggalan Paling Rumit di Dunia Peninggalan Sultan Agung, Simbol Akulturasi Islam dan Budaya Jawa

Peninggalan Sultan Agung tak hanya kebendaan maupun tempat bersejarah seperti Makam Imogiri.

Sultan Agung juga meninggalkan banyak warisan tak benda, seperti penanggalan Jawa dan sebagainya.

Salah satu peninggalan Sultan Agung yang banyak diyakini masyarakat adalah Bahasa Bagongan.

Baca Juga: Mengenal 2 Permaisuri Sultan Agung, Nama Asli hingga Keturunan yang Menjadi Putra Mahkota

Namun nyatanya, bahasa yang hanya digunakan di lingkungan Keraton Yogyakarta ini bukan diciptakan oleh Sultan Agung loh.

Menurut penuturan KH Brongtodiningrat dalam bukunya, bahasa Bagongan ternyata sudah ada jauh sebelum Kerajaan Majapahit berdiri.

Itu artinya Bahasa Bagongan yang berusia lebih dari 700 tahun ini sudah ada sebelum Mataram Islam dirikan.

Baca Juga: 4 Karya Satra Ciptaan Sultan Agung, Mulai Teologi Hingga Kepemimpinan Religius, Serat Ini Paling Terkenal

Dikutip SketsaNusantara.id dari akun X Keraton Yogyakarta @kratonjogja, Bahasa Bagongan atau Bahasa Kedaton mulai berkembang pada era Maha Prabu Sindulo di Kerajaan Galuh.

Halaman:

Tags

Terkini