Strategi politiknya pun terbilang cerdik. Beliau kerap bergabung dalam komunitas society orang-orang Belanda, bermain bowling dan biliar, salah satunya di gedung selatan kantor pos (sekarang kantor Telkom).
Tujuannya bukan untuk berfoya-foya, melainkan sebagai media lobi tingkat tinggi. Melalui kedekatan personal tersebut, Kanjeng Sepuh berhasil melunakkan hati pejabat kolonial agar tidak menerapkan kebijakan pajak yang mencekik rakyat Jombang. Strategi "main cantik" ini terbukti efektif menjaga stabilitas ekonomi warga pribumi di masa itu.
Setelah mengabdi selama dua dekade di Jombang, Kanjeng Sepuh pensiun pada tahun 1930 dan jabatannya diteruskan oleh putranya, R.A.A. Setjoadiningrat. Meski sudah pensiun, ketokohannya tidak luntur.
Beliau tetap menjadi rujukan nasehat bagi para pegawai negeri hingga akhir hayatnya. Kanjeng Sepuh wafat pada 20 April 1946, meninggalkan legasi sebagai pemimpin yang cerdas menempatkan diri di antara tekanan penjajah dan jeritan rakyat.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!