SketsaNusantara.id - Nama Raden Adipati Arya (R.A.A.) Soeroadiningrat mungkin terdengar sangat formal dalam catatan sejarah administratif Jawa Timur.
Namun, bagi masyarakat Jombang, sosok bupati pertama yang menjabat sejak tahun 1910 hingga 1930 ini memiliki tempat istimewa di hati mereka. Beliau lebih akrab dan sayang dipanggil dengan sebutan "Kanjeng Sepuh".
Bukan sembarang tokoh, Kanjeng Sepuh memiliki garis keturunan darah biru yang sangat kuat. Berdasarkan silsilah keluarga, beliau tercatat sebagai keturunan ke-15 dari raja terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V.
Beliau merupakan putra dari Adipati Sedayu, R.A.A. Soeroadiningrat IV. Terlahir dengan nama kecil Bagus Badrun, masa mudanya dihabiskan dengan proses pendadaran diri yang ketat selayaknya calon pemimpin bangsa.
Dikutip SketsaNusantara.id dari jurnal karya Kusuma, A. D. (2022). Perkembangan Kota Jombang masa kepemimpinan R.A.A. Soeroadiningrat 1910-1930. Historiography: Journal of Indonesian History and Education, 2(1), 119-129, pendidikan karakter Bagus Badrun ditempa melalui dua jalur sekaligus: spiritual dan fisik.
Sebagai bekal terjun ke masyarakat, beliau menuntut ilmu agama di Pesantren Giri. Tak cukup hanya ilmu agama, beliau juga memperdalam seni beladiri di Perguruan Gilingwesi. Perpaduan ini membentuk karakternya menjadi pemimpin yang alim namun tangguh.
Baca Juga: Padukan Try Out TKA dan Fashion Show, MAN 9 Jombang Pikat 500 Siswa SMP Tembelang
Karier birokrasinya dimulai dari bawah. Pada Maret 1883, beliau menjadi penulis tidak dibayar di Distrik Mojorejo. Tujuh tahun kemudian, kariernya menanjak menjadi jaksa di wilayah Sedayu.
Puncaknya, pada 5 Maret 1894, beliau diangkat menjadi Bupati Sedayu menggantikan sang ayah dan mendapat gelar R.A.A. Soeroadiningrat V. Baru pada tahun 1910, beliau resmi memimpin wilayah baru bernama Jombang.
Salah satu warisan pemikirannya yang paling menarik adalah filosofi kepemimpinannya. Kanjeng Sepuh memegang prinsip "mengikuti arus air tapi jangan sampai terbawa di dalamnya".
Artinya, beliau tampak kooperatif mengikuti kemauan pemerintah kolonial Belanda, namun di satu sisi tetap teguh berjuang untuk kepentingan rakyat. Simbol kepemimpinannya adalah pohon beringin yang ditanam di halaman pendopo serta di area yang kini dikenal sebagai Ringin Contong, yang dalam filosofi Jawa bermakna pengayoman atau perlindungan mutlak bagi rakyat.
Kanjeng Sepuh juga dikenal sebagai tokoh yang pluralis dan moderat. Buktinya, di ruang kerjanya terdapat patung Budhis dan Batara Wisnu. Ini bukan berarti beliau penganut sinkretisme, melainkan simbol bahwa beliau mengayomi semua golongan.
Artikel Terkait
Bupati Jombang Buka Festival Cublak Suweng 2026 di Bait Kata School
Fokus Pembentukan Karakter Siswa, IPNU-IPPNU di Jombang Gelar Makesta
Mengenal KH Adlan Aly, Ulama Hafiz Qur'an dan Pendiri Pesantren Putri Pertama di Cukir Jombang
Teknologi Picu Degradasi Moral, LP Ma'arif NU Jombang Siap Jaga Nilai Agama Sekaligus Dorong Inovasi Pembelajaran
Hendak Masuk PTN, Ribuan Siswa di Jombang Ikuti Doa Bersama