Kamis, 4 Juni 2026

Keturunan Brawijaya V yang Jadi Bupati Pertama Jombang, Inilah Strategi 'Main Cantik' Kanjeng Sepuh Hadapi Belanda

Photo Author
Hari Prasetia, Sketsa Nusantara
- Selasa, 3 Februari 2026 | 20:30 WIB
R.A.A. Soeroadiningrat, Bupati Jombang pertama yang memimpin pada periode 1910 hingga 1930.  (Jurnal Historiography UNM/Ananta Dharma Kusuma)
R.A.A. Soeroadiningrat, Bupati Jombang pertama yang memimpin pada periode 1910 hingga 1930. (Jurnal Historiography UNM/Ananta Dharma Kusuma)

 

SketsaNusantara.id - Nama Raden Adipati Arya (R.A.A.) Soeroadiningrat mungkin terdengar sangat formal dalam catatan sejarah administratif Jawa Timur.

Namun, bagi masyarakat Jombang, sosok bupati pertama yang menjabat sejak tahun 1910 hingga 1930 ini memiliki tempat istimewa di hati mereka. Beliau lebih akrab dan sayang dipanggil dengan sebutan "Kanjeng Sepuh".

Bukan sembarang tokoh, Kanjeng Sepuh memiliki garis keturunan darah biru yang sangat kuat. Berdasarkan silsilah keluarga, beliau tercatat sebagai keturunan ke-15 dari raja terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Panjang Pemisahan Jombang dari Mojokerto, Butuh Waktu 36 Tahun untuk Benar-Benar Mandiri

Beliau merupakan putra dari Adipati Sedayu, R.A.A. Soeroadiningrat IV. Terlahir dengan nama kecil Bagus Badrun, masa mudanya dihabiskan dengan proses pendadaran diri yang ketat selayaknya calon pemimpin bangsa.

Dikutip SketsaNusantara.id dari jurnal karya Kusuma, A. D. (2022). Perkembangan Kota Jombang masa kepemimpinan R.A.A. Soeroadiningrat 1910-1930. Historiography: Journal of Indonesian History and Education, 2(1), 119-129, pendidikan karakter Bagus Badrun ditempa melalui dua jalur sekaligus: spiritual dan fisik.

Sebagai bekal terjun ke masyarakat, beliau menuntut ilmu agama di Pesantren Giri. Tak cukup hanya ilmu agama, beliau juga memperdalam seni beladiri di Perguruan Gilingwesi. Perpaduan ini membentuk karakternya menjadi pemimpin yang alim namun tangguh.

Baca Juga: Padukan Try Out TKA dan Fashion Show, MAN 9 Jombang Pikat 500 Siswa SMP Tembelang

Karier birokrasinya dimulai dari bawah. Pada Maret 1883, beliau menjadi penulis tidak dibayar di Distrik Mojorejo. Tujuh tahun kemudian, kariernya menanjak menjadi jaksa di wilayah Sedayu.

Puncaknya, pada 5 Maret 1894, beliau diangkat menjadi Bupati Sedayu menggantikan sang ayah dan mendapat gelar R.A.A. Soeroadiningrat V. Baru pada tahun 1910, beliau resmi memimpin wilayah baru bernama Jombang.

Salah satu warisan pemikirannya yang paling menarik adalah filosofi kepemimpinannya. Kanjeng Sepuh memegang prinsip "mengikuti arus air tapi jangan sampai terbawa di dalamnya".

Artinya, beliau tampak kooperatif mengikuti kemauan pemerintah kolonial Belanda, namun di satu sisi tetap teguh berjuang untuk kepentingan rakyat. Simbol kepemimpinannya adalah pohon beringin yang ditanam di halaman pendopo serta di area yang kini dikenal sebagai Ringin Contong, yang dalam filosofi Jawa bermakna pengayoman atau perlindungan mutlak bagi rakyat.

Kanjeng Sepuh juga dikenal sebagai tokoh yang pluralis dan moderat. Buktinya, di ruang kerjanya terdapat patung Budhis dan Batara Wisnu. Ini bukan berarti beliau penganut sinkretisme, melainkan simbol bahwa beliau mengayomi semua golongan.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X