jelajah

Wajah Jombang Modern Ternyata Dibentuk Lewat 5 Proyek Infrastruktur Raksasa Era Bupati Pertama

Selasa, 3 Februari 2026 | 19:30 WIB
Peta Provinsi Jawa Timur, 1928. Sudah terdapat afdeeling Jombang. (Jurnal Historiography UNM /Ananta Dharma Kusuma)

Pada 1 Desember 1916, jalur BDSM diambil alih oleh perusahaan negara Staatsspoorwegen (SS). Ekspansi jaringan rel terus berlanjut hingga tahun 1921 dengan dibangunnya percabangan jalur dari Stasiun Krian menuju Stasiun Ploso, yang semakin membuka isolasi wilayah utara Jombang.

Keempat, Jombang mengukuhkan diri sebagai pusat pendidikan Islam. Era ini menandai berdirinya Pesantren Mamba’ul Ma’arif di Denanyar pada tahun 1917 oleh KH. Bisri Syansuri (sebelumnya sudah berdiri pesantren Bahrul Ulum, Darul Ulum, dan Tebuireng).

Tak hanya mendirikan pesantren, Kiai Bisri juga melakukan terobosan revolusioner pada tahun 1919 dengan membuka kelas khusus santri putri, sebuah langkah berani untuk mengangkat derajat perempuan yang kala itu masih termarginalkan dalam akses pendidikan.

Terakhir, sektor kesehatan juga mendapat perhatian serius. Pada tahun 1921, berdiri rumah sakit di daerah Ngoro milik Bank Kolonial yang berafiliasi dengan RS Misionari Mojowarno.

Tak berhenti di situ, poliklinik juga didirikan di Mojoagung (1924) dan Sumobito (1925) dengan sokongan dana dari pabrik gula. Bahkan, menjelang akhir masa jabatannya, R.A.A. Soeroadiningrat mendirikan fasilitas kesehatan di Jalan Wahid Hasyim (depan Kantor Pos sekarang) untuk menjamin akses kesehatan warga kota.

Rangkaian pembangunan fisik dan sosial inilah yang menjadi fondasi kokoh bagi Jombang untuk tumbuh mandiri. R.A.A. Soeroadiningrat tidak hanya membangun gedung dan jalan, tetapi membangun peradaban kota yang melayani warganya.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Tags

Terkini