Kamis, 4 Juni 2026

Mengenal I La Galigo, Epos Nusantara Asal Bugis yang Jadi Kitab Terpanjang di Dunia, Kalahkan Mahabharata dan Ramayana dari India

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Kamis, 16 Januari 2025 | 22:00 WIB
Potret kitab I La Galigo dari Bugis (Laman nunukan.wordpress.com)
Potret kitab I La Galigo dari Bugis (Laman nunukan.wordpress.com)

Teks La Galigo tak hanya ada di Indonesia sebab teks ini tersebar disejumlah negara-negara Eropa maupun Amerika.

Ketiga, warisan kuno yang tertera di teks La Galigo hingga saat ini masih dilakukan dalam masyarakat Bugis sehari-hari. Setidaknya pada upacara adat mereka seperti upacara Mappaliliq misalnya dalam upacara turun ke sawah.

Juga masih terlihat pada tradisi Massureq atau Maggaligo yaitu melagukan syair La Galigo di Kabupaten Pangkajene Sidenreng Rappang, Wajo, Soppeng, Barru dan Luwu.

Baca Juga: Kitab Kutawa Manawa: KUHP Era Kerajaan Majapahit, Tegas hingga Aneh, Ada Hukuman untuk Koruptor dan Tukang Selingkuh

Ancaman hilangnya I La Galigo 

I La Galigo selain merupakan warisan tradisi tulisan dan juga lisan sebab dalam tradisi lama Galigo, dalam upacara adat dibacakan sembari dinyanyikan dalam bahasa Bugis yang disebut Laoang atau Seleang.

Namun sayangnya, sejalan dengan pudarnya pengetahuan lokal perihal teks kuno Bugis, juga rendahnya tingkat penguasaan masyarakat atas bahasa kuno dan aksara lontara maka hal ini menjadi ancaman tersendiri bagi pewarisan khasanah Galigo.

Untuk itu, mengantisipasi hilangnya khasanah kuno asal Bugis ini maka pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Belanda mengusulkan La Galigo dimasukkan pada World Heritage di UNESCO.

Baca Juga: Kitab Kutawa Manawa: KUHP Era Kerajaan Majapahit, Tegas hingga Aneh, Ada Hukuman untuk Koruptor dan Tukang Selingkuh

Atas pengajuan itu maka sejak tahun 2011, naskah kuno La Galigo telah resmi terdaftar di UNESCO sebagai Memory of The World.

Merujuk pada deskripsi UNESCO, La Galigo disepakati berasal dari Abad ke 14 sekalipun sebenarnya usianya kemungkinan besar lebih tua.

La Galigo jadi pusat perhatian dunia

Seorang sutradara Avant Garde yang terkenal di Amerika Serikat bernama Robert Wilson membawakan naskah La Galigo ke panggung internasional sehingga naskah ini kemudian menjadi pusat perhatian dunia.

Baca Juga: Hingga Tertulis di Relief Candi dan Kitab Kuno, Inilah 8 Makanan Nusantara yang Digemari Sejak Zaman Kerajaan

Pada tahun 2004, Robert Wilson membawa La Galigo di pentaskan di Singapura, lalu selang dua bulan kemudian dipentaskan ke negara-negara Eropa lalu ke Amerika, lalu puncaknya 2 tahun kemudian pada tahun 2006 di pentaskan di Jakarta.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: kemdikbud.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X