Kamis, 4 Juni 2026

Mengenal I La Galigo, Epos Nusantara Asal Bugis yang Jadi Kitab Terpanjang di Dunia, Kalahkan Mahabharata dan Ramayana dari India

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Kamis, 16 Januari 2025 | 22:00 WIB
Potret kitab I La Galigo dari Bugis (Laman nunukan.wordpress.com)
Potret kitab I La Galigo dari Bugis (Laman nunukan.wordpress.com)

SketsaNusantara.id - Jika kita selama ini sering mendengar atau melihat film Mahabharata dan Ramayana dari India, kita juga harus tahu bahwa Nusantara juga memiliki naskah bernama Kitab I La Galigo.

Bahkan dikatakan I La Galigo memiliki ukuran isi yang lebih besar serta lebih panjang dari Mahabarata dan Ramayana dari India serta lebih besar dari Homerus dari Yunani.

I La Galigo atau Galigo merupakan kitab epos yang berasal dari Bugis dan merupakan kitab sastra yang bernilai artistik yang syarat akan makna spiritual dan keagamaan.

Baca Juga: Kitab Arjuna Wiwaha, Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri tentang Pertapaan Arjuna di Gunung Semeru

I La Galigo dikenal pula dengan nama Furek Galigo atau Galigo, merupakan kitab kuno berbentuk puisi yang berisi penciptaan dari peradaban Bugis yang saat itu masih mengenal kepercayaan lokal bernama Tolotang.

Posisi kitab I La Galigo dalam kepercayaan Tolotang adalah kitab suci sehingga dalam kepercayaan Bugis jika hendak membaca Galigo maka harus dimulai dengan ritual.

Ritualnya berupa pemotongan sesaji berupa ayam atau kambing dan ritual lainnya lalu setelahnya baru dibacakan fragmen kisah yang terdapat dalam Galigo.

Baca Juga: Kitab yang Ditulis pada Abad 16 Ini Menjadi Kontroversi, Terkenal Sebagai Kitab Raja-Raja Singasari hingga Majapahit

Masyarakat Bugis percaya bahwa membaca Galigo sama dengan berdoa yang memiliki nilai magis hingga mampu menjadi tolak bala, mengobati penyakit dan sebagainya.

Inilah uraian apa dan bagaimana serta fakta apa saja dalam Kitab I La Galigo, dilansir dari SketsaNusantara.id dikutip dari laman kemdikbud.go.id. 

Kapan I La Galigo dikenal ?

Kitab I La Galigo atau Galigo yang berupa puisi epik awalnya merupakan tuturan lisan namun memasuki paruh pertama abad 19, karya ini mulai ditulis berbentuk puisi tradisional bugis diatas daun lontar.

Komposisi bahasa dalam Galigo memiliki komposisi bahasa yang epik dan bernilai susastra yang tinggi.

Baca Juga: Hukum Berdebat Apalagi sampai Merendahkan Orang Lain Menurut Kyai Hasyim Asy'ari dalam Kitab Adabul Alim wa Muta'alim

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: kemdikbud.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X