Senin, 20 Juli 2026

Tak Banyak yang Tahu, Inilah Kisah Sedih Istri Letjen S Parman yang Ternyata Sudah Dua Kali Jadi Korban Kekejaman PKI

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Rabu, 18 September 2024 | 21:15 WIB
Potret Letjen S. Parman bersama sang istri yang jadi korban G30S PKI  (YouTube LC Heroic Story)
Potret Letjen S. Parman bersama sang istri yang jadi korban G30S PKI (YouTube LC Heroic Story)

Dalam buku disebutkan bagaimana Letjen S Parman diculik dengan sejumlah pria berseragam lengkap hingga akhirnya dibunuh dan jasadnya dibuang ke Lubang Buaya bersama 5 jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat yakni Lettu Pierre Tendean.

Sebelum meninggal, Letjen S Parman pun sempat berfirasat ketika meninggalkan pesan pada istrinya untuk menguburkannya di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.

Baca Juga: 4 Fakta Tentang Letnan Jenderal TNI Anumerta MT Haryono, Sosok Pahlawan Revolusi yang Menjadi Korban G30S PKI

Beberapa hari sebelumnya, Letjen S Parman juga mengajak Sumirahayu berjalan-jalan dan memberikan foto berbingkai pada istri tercintanya itu sebagai peninggalan terakhir baginya.

Hingga peristiwa penculikan dan pembunuhan itu terjadi, Letjen S Parman bersama korban G30S PKI lainnya disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Suasana prosesi pemakaman pada 5 Oktober 1965 itu terasa sangat dramatis dan tragis karena pada hari itu rencananya akan digelar peringatan ulang tahun ke-20 ABRI secara besar-besaran, tetapi yang terjadi adalah pemakaman sebagian besar pimpinan Angkatan Darat.

Baca Juga: Profil Mayjen DI Panjaitan, Pahlawan Revolusi Tragedi G30S PKI: dari Anggota Giyugun hingga Penghargaan Anumerta

Jenderal Nasution yang kala itu menyampaikan pidato tak kuat menahan tangisnya begitu pula dengan Presiden Soekarno,

Salim Said juga menuliskan bagaimana suasana dalam ruangan tempat para jenazah dibaringkan yang dipenuhi dengan suara isak tangis dari anak dan istri para jenderal yang dimakamkan.

Menurut pengakuan Salim Said, tangis yang terdengar sangat memilukan adalah tangisan Ny. Sumirahayu ketika Letjen S Parman dimakamkan.

"Jenderal Parman adalah suami kedua Ibu Parman. Tangisnya terasa pilu karena suami pertamanya juga tewas di tangan kaum komunis pada Pemberontakan di Madiun tahun 1948," kata Salim Said dalam bukunya.

Baca Juga: Nasib Rumah Letjen MT Haryono Pahlawan Revolusi Korban G30S PKI, Bentuk Bangunan Aslinya Masih Terjaga?

Kesedihan mendalam pun selalu dirasakan Ny. Sumirahayu sepeninggal Letjen S Parman, terlebih pada malam minggu yang menjadi momen khusus bagi keduanya untuk meluangkan waktu bersama

Sesibuk apapun Letjen S Parman menjalankan tugasnya untuk negara, ia selalu meluangkan waktu untuk sang istri yang menjadi kenangan pilu bagi Sumirahayu.

Tiap malam minggu Sumirahayu sesekali menangis teringat Letjen S Parman dan terkadang didatangi dalam mimpi meski ia tahu bahwa sang suami tak akan kembali untuk selama-lamanya.***

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto, Salim Said, 20

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X