Pada tahun 1880, salah satu warga Tengger menemukan sebuah prasasti di penanjakan yang masuk ke dalam wilayah Desa Wonokitri, Pasuruan.
Dalam prasastri tersebut tertulis angka 851 Saka (Sekitar 929 M) disertai sebuah nama desa: Walandhit.
Desa ini merupakan tempat suci yang dihuni oleh hululn hyang, yakni orang-orang yang mengabdikan hidupnya sebagai abdi dewata.
Prasasti tersebut diyakini sebagai hadiah dari Hayan Wuruk, raja terbesar Kerajaan Majapahit.
Tak hanya itu, dalam kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca, nama Walandhit berhubungan dengan tempat tinggal orang Tengger.
Baca Juga: Kisah Keturunan Raja Hayam Wuruk Paksa Peluk Agama Islam, hingga Jadi Wali Allah di Wilayah Tuban
Di mana wilayah tersebut adalah tempat suci yang dihormati oleh kerajaan Majapahit.
Walau begitu, belum semua suku Tengger merupakan keturunan Majapahit.
Namun yang jelas, kawasan Bromo-Tengger-Semeru sudah ada dan berpenghuni sejak kerajaan Majapahit.
Baca Juga: Ada Sejak Abad ke-14 Masehi, Peninggalan Majapahit di Ketinggian Ini Ada di Purwodadi Pasuruan
Hingga akhirnya saat Demak menyerang, banyak rakyat Majapahit yang melarikan diri ke pegunungan Tengger hingga berbaur dengan masyarakat setempat.
Hal tersebut juga dapat dilihat dari ritual keagamaan yang dilakukan orang Tengger mirip dengan ritus masyarakat Majapahit kala itu.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Apa Itu Yadnya Kasada? Upacara Adat Masyarakat Asli Bromo Suku Tengger
Punya Gaya Singasari, Candi di Blitar Ini Konon Peninggalan Kerajaan Majapahit
Cek Fakta: Perang Bubat Majapahit vs Raja Sunda Hanyalah Dongeng Bohong Karangan Belanda? Sejarawan KH Agus Sunyoto Bongkar Semua Kebenarannya
Ada Sejak Abad ke-14 Masehi, Peninggalan Majapahit di Ketinggian Ini Ada di Purwodadi Pasuruan
Ada Gapura Kuno dari Abad ke-14, Candi di Mojokerto Peninggalan Kerajaan Majapahit Masih Kokoh Berdiri