SketsaNusantara.id - Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sejarah, budaya, hingga tradisi yang telah ada sejak turun temurun.
Tak terkecuali di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Masyarakat asli Bromo, yakni Suku Tengger ternyata memiliki tradisi yang dikenal dengan upacara adat Yadnya Kasada.
Tahun ini, pelaksanaannya berlangsung pada 21 hingga 24 Juni. Kawasan Gunung Bromo pun ditutup sementara untuk menghormati masyarakat lokal.
Baca Juga: 4 Fakta Kerajaan Pajajaran Tidak Pernah Ada, Lalu dari Mana Asal Nama Itu?
Lantas, apa itu upacara adat Yadnya Kasada? Berikut SketsaNusantara.id jabarkan, sebagaimana dilansir dari laman Kemenparekraf.
Sarat akan makna, Yadnya Kasada merupakan upacara persembahan yang dilakukan dengan melempar sesaji ke kawah.
Bukan tanpa alasan, upacara ini merupakan wujud rasa syukur sekaligus penghormatan dan bakti pada Sang Hyang Widhi dan para leluhur.
Dimana upacara ini dilakukan sesuai penanggalan tradisional Hindu Tengger yakni setiap bulan Kasada hari ke-15.
Baca Juga: Dari Kerajaan yang Besar di Jawa Hingga Terpecah: Silsilah Raja-raja Dinasti Mataram Islam
Upacara adat Yadnya Kasada juga dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan Kusuma, ialah anak dari Jaka Seger dan Roro Anteng, seorang putri raja Majapahit.
Tak hanya itu, kawasan Gunung Bromo juga memiliki storynomics selain legenda Yadnya Kasada yang tidak kalah populer.
Ialah kisah di balik terciptanya gunung yang berada tepat di samping Gunung Bromo, atau dikenal dengan nama Gunung Batok.
Terciptanya Gunung Batok, erat kaitannya dengan kisah cinta dua sejoli yakni Joko Seger dan Rara Anteng.
Baca Juga: Apa Instagram Aviz Fauzan Amin? Pengusaha Tajir Calon Jodoh Syifa Hadju
Artikel Terkait
Mengulik Sejarah Bubur Suro, Wasilah Nabi Nuh Sebagai Penyatu Perbedaan Perspektif Serta Filosofi dalam Tradisi Islam dan Jawa
Mengenal Bubur Suro, Makanan Khas Tradisi Menyambut Tahun Baru Islam di Tanah Jawa, Terinspirasi dari Kisah Nabi Nuh
Kebo Bule Kyai Slamet jadi Tokoh Utama Tradisi Kirab 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta, Kenapa? Alasannya...
Kejawen dan Jejak Sultan Agung dalam Pembentukan Islam-Jawa hingga Tradisi dan Ritual yang Masih Dilakukan
Ritual Kungkum Malam 1 Suro, Tradisi Sakral Turun-Temurun, Pernah Dilakukan Presiden Soeharto, Beneran Bikin Sakti?