Namun, hidup Rara Anteng kerap tidak tenang lantaran kecantikan yang dimilikinya. Pasalnya, ia menjadi “penyebab” meletusnya pertempuran para putra raja dan pengusaha akibat menolak lamaran dari mereka.
Hingga pada suatu hari, turut datang seorang bajak laut yang ingin mempersunting Rara Anteng.
Berbagai upaya dilakukan Rara Anteng untuk bisa menolak lamaran sang bajak laut tanpa membuatnya murka dan membunuh warga di desanya.
Rara Anteng pun mengatakan jika ia bersedia menerima pinangan sang bajak laut dengan satu syarat. Sang bajak laut harus bisa membuat lautan padang pasir dengan mengeruk Gunung Bromo sebelum ayam berkokok saat fajar.
Agar upaya sang bajak laut gagal, bersama teman-temannya Rara Anteng pun menumbuk padi agar ayam jantan berkokok sebelum fajar, ternyata cara itu berhasil.
Lantaran kecewa karena gagal, sang bajak laut pun pergi sembari melemparkan cangkang berbentuk batok yang digunakan untuk mengeruk pasir.
Secara ajaib di tengah kepergiannya, cangkang tersebut berubah menjadi sebuah gunung yang kini dikenal dengan nama Gunung Batok.
Pada akhirnya, Joko Seger dan Rara Anteng pun menikah dan mendirikan desa bernama “Tengger” yang diambil dari gabungan nama keduanya, yakni Anteng dan Seger.***
Artikel Terkait
Mengulik Sejarah Bubur Suro, Wasilah Nabi Nuh Sebagai Penyatu Perbedaan Perspektif Serta Filosofi dalam Tradisi Islam dan Jawa
Mengenal Bubur Suro, Makanan Khas Tradisi Menyambut Tahun Baru Islam di Tanah Jawa, Terinspirasi dari Kisah Nabi Nuh
Kebo Bule Kyai Slamet jadi Tokoh Utama Tradisi Kirab 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta, Kenapa? Alasannya...
Kejawen dan Jejak Sultan Agung dalam Pembentukan Islam-Jawa hingga Tradisi dan Ritual yang Masih Dilakukan
Ritual Kungkum Malam 1 Suro, Tradisi Sakral Turun-Temurun, Pernah Dilakukan Presiden Soeharto, Beneran Bikin Sakti?