Sultan Abdul Kahar adalah arsitek di balik kejayaan ini.
Dengan ketajaman strateginya, ia menguasai perdagangan lada dan meraup keuntungan besar hingga 35 persen dari setiap penjualan.
Sosoknya yang tegas dan kuat menolak tawaran kerjasama dengan VOC, perusahaan dagang Belanda yang mendominasi perdagangan di Asia pada masa itu.
Namun, perjalanan kejayaan ini tak selalu mulus. Pada abad ke-17, Jambi terlibat dalam perseteruan dengan Johor, memperebutkan kendali atas kawasan strategis Kuala Tungkal.
Konflik memanas hingga berubah menjadi pertempuran terbuka pada tahun 1671 hingga 1674, dengan kapal-kapal Jambi dan Johor saling serang di perairan masing-masing.
Meskipun demikian, pada tahun 1681, kedua kerajaan ini memilih berdamai dan bersatu melawan musuh bersama mereka, Palembang.
Namun, ancaman dari VOC semakin mencekik Kesultanan Jambi.
Sultan Abdul Kahar, menyadari tekanan yang semakin besar, memutuskan untuk turun takhta dan menyerahkan kekuasaan kepada Sultan Agung.
Keputusan ini menandai awal dari kemunduran Kesultanan Jambi.
Pukulan telak datang pada masa pemerintahan Sultan Taha Syaifuddin, ketika ia dengan tegas menolak perjanjian yang diajukan oleh Belanda.
Pada tahun 1858, Belanda menyerang Jambi dan berhasil merebut istana.
Artikel Terkait
Warisan Kerajaan Kutai Kartanegara, Museum Mulawarman Jadi Narator Jejak Sejarah Peradaban Kaltim Masa Lampau
Misteri Hilangnya Istana Kerajaan Majapahit yang Masih Menjadi Teka-teki Besar dan Tak Terpecahkan
Mengenal Keunikan Candi Dieng Banjarnegara, Peninggalan Kerajaan Kalingga yang Konon Merupakan Candi Paling Tua di Indonesia
Menguak Rahasia Batu Melingkar Tasikmalaya Jejak Kerajaan Galuh Purba dan Kemunculan Frekuensi Misterius dari Peradaban Masa Lalu
Inilah Candi Jawi Peninggalan Kerajaan Singasari yang Dibangun pada Abad ke-13 di Masa Pemerintahan Raja Kertanegara