Minggu, 19 Juli 2026

Menguak Rahasia Batu Melingkar Tasikmalaya Jejak Kerajaan Galuh Purba dan Kemunculan Frekuensi Misterius dari Peradaban Masa Lalu

Photo Author
Qorry 'Aina Damayanti, Sketsa Nusantara
- Selasa, 3 September 2024 | 21:56 WIB
Ilustrasi batu melingkar di Tasikmalaya (Pixabay.com/ ChiemSeherin)
Ilustrasi batu melingkar di Tasikmalaya (Pixabay.com/ ChiemSeherin)

SketsaNusantara.id - Tasikmalaya kembali menarik perhatian publik dengan penemuan sebuah situs batu melingkar yang memancarkan frekuensi unik di Desa Jahiang. Dikenal dengan sebutan "circle stone."

Batu melingkar ini mengejutkan banyak pihak setelah penelitian oleh Telkom Tasikmalaya menunjukkan bahwa batu tersebut dapat memperkuat sinyal HT dan ponsel.

Temuan ini mengundang beragam spekulasi mengenai asal usul dan fungsi batu melingkar ini.

Baca Juga: Peninggalan Kerajaan Kalingga Paling Unik di Jepara, Candi Angin dengan Segudang Misteri, Batu Terbang Sendiri?

Penelitian intensif yang dilakukan oleh Telkom Tasikmalaya menegaskan bahwa batu melingkar tersebut memang mengeluarkan frekuensi yang dapat memperkuat sinyal elektronik.

Keberadaan frekuensi ini menimbulkan pertanyaan mendalam mengenai bagaimana dan mengapa batu-batu ini dibangun oleh nenek moyang di daerah tersebut.

Berbagai teori mulai bermunculan, ada yang menghubungkannya dengan fenomena alam, ada pula yang menduga adanya teknologi kuno yang belum terungkap sepenuhnya.

Baca Juga: Sempat Nyatakan Mundur Sebagai Calon Wali Kota Batu di Instagram, Kini Krisdayanti Kembali Melaju di Pilkada 2024

Profesor Dr. Agus Aris Munandar, seorang ahli arkeologi dan sejarah dikutip SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Angelick Vaulina, mengungkapkan bahwa situs batu melingkar di Jahiang bukan berasal dari era prasejarah, melainkan dibangun sekitar abad ke-13 hingga ke-15 Masehi.

Pada masa itu, wilayah ini berada di bawah pengaruh Kerajaan Galuh Purba, sebuah kerajaan besar di tatar Sunda kuno.

Menurut Profesor Munandar, masyarakat Sunda kuno tidak membangun candi besar sebagai tempat pemujaan seperti di wilayah lain di Nusantara, melainkan membangun bangunan sederhana seperti circle stone yang berfungsi sebagai simbol spiritual.

Baca Juga: Misteri Hilangnya Istana Kerajaan Majapahit yang Masih Menjadi Teka-teki Besar dan Tak Terpecahkan

Lingkaran batu ini disusun dengan orientasi tertentu sesuai arah mata angin yang memiliki makna simbolik yang dalam bagi masyarakat Sunda kuno.

Arah selatan melambangkan akhir kehidupan, arah barat sebagai tempat meditasi dan refleksi spiritual, dan arah timur sebagai lokasi upacara pemujaan kerajaan.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: YouTube Angelick Vaulina

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X