SketsaNusantara.id - Gado-gado, hidangan legendaris Indonesia yang menggabungkan sayuran dengan bumbu kacang, menyimpan sejarah yang menarik.
Pada abad ke-17, khususnya antara 1628-1629, Kesultanan Mataram di bawah Sultan Agung menghadapi situasi kritis saat menyerbu Batavia.
Pasukan Mataram mengalami kekurangan bahan makanan, terutama beras, karena lumbung-lumbung beras dibakar oleh VOC, seperti dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube yoatoon.
Dalam keadaan darurat ini, prajurit warok dari Ponorogo menciptakan sambal bumbu pecel dari kacang tanah.
Lalu, mereka campurkan dengan sayuran mentah yang ada di sekitar persawahan untuk bertahan hidup.
Dalam bahasa Jawa, cara makan ini disebut "gado," yang berarti makan lauk tanpa nasi.
Dari resep sederhana tersebut, gado-gado berkembang menjadi hidangan khas Jakarta atau Betawi yang sangat populer.
Baca Juga: Akhir Tragis Kapten Tack VOC dan Raden Trunojoyo, Benarkah Karena Kutukan Mahkota Majapahit?
Kini, gado-gado terdiri dari sayur-sayuran rebus, irisan telur, tahu, dan kerupuk, semua disiram dengan bumbu kacang yang telah dihaluskan.
Hidangan ini bisa dinikmati seperti salad dengan bumbu kacang atau disajikan dengan nasi putih atau lontong.
Dengan tambahan lontong, telur, tahu, dan kerupuk, gado-gado kini bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol dari evolusi kuliner Indonesia yang memadukan tradisi dengan inovasi.
Baca Juga: Perjanjian Giyanti: Alasan di Balik Pembagian Jawa yang Mengubah Sejarah! Ada Campur Tangan VOC?
Artikel Terkait
Mengenal Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara: Gagal Menjadi Dokter, Malah Jadi Pahlawan Nasional
Siapa Suhud Sastro Kusumo? 5 Fakta Tokoh yang Lindungi Keluarga Bung Karno, Saat Kemerdekaan Indonesia Berperan Sebagai...
5 Fakta Ismail Marzuki: Komponis Indonesia Pencipta Lagu Rayuan Pulau Kelapa, Pernah Bekerja jadi Verkoper di Perusahaan...
3 Fakta Istimewa Terkait Pertimbangan Soekarno Memilih 17 Agustus 1945 Sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia, Nomor 2 Jadi Landasan yang Paling Mendasar
4 Pusaka Majapahit yang Menjadi Simbol Kejayaan Kerajaan Ini, Ternyata Tidak Ada di Indonesia?