Saat film ditayangkan banyak tentara kesal karena mengaggap film The Long March telah mengecilkan peran tentara, terutama di divisi Siliwangi dalam perjuangan kemerdekaan.
Selain itu lembaga sensor saat itu juga tidak menyetujui cerita kisah asmara tentara dengan gadis Eropa, sehingga sejumlah komandan daerah melarang film ini diputar.
Namun akhirnya judul film The Long March bisa ditayangkan namun diganti dengan judul "Darah dan Doa", hal itu terjadi setelah Usmar Ismail menjelaskan bahwa seorang Sudarto, tokoh utama dalam filmnya bukan merupakan pahlawan dalam arti biasa.
Kala itu ia menjelaskan bahwa Sudarto merupakan manusia yang terseret arus revolusi yang menceritakan secara jujur kisah manusia Indonesia dengan tidak jatuh menjadi film propaganda yang murah.
The Long March atau yang kemudian menjadi "Darah dan Doa" diproduksi sendiri oleh PERFINI, perusahaan film yang didirikan Usmar Ismail dengan modal uang pesangon ketika ia keluar dari ketentaraan.
"Darah dan Doa" kemudian menjadi film nasional pertama Indonesia karena di produseri dan disutradarai langsung oleh orang Indonesia yakni Usmar Ismail sendiri. Sedangkan hari pertama penggarapan film Darah dan Doa kemudian ditetapkan sebagai hari film Nasional sejak tahun 1962.
Tak berhenti disitu saja, film-film garapan Usmar Ismail terus bermunculan seperti "Lewat Djam Malam" (1954), hingga satu film berjudul "Tiga Dara" benar-benar sukses hingga ditayangkan di festival film Venesia dan menyusul kemudian "Asrama Dara" (1958).
Setelahnya, film-film Usmar Ismail terus bermunculan hingga jika ditotal ada sekitar 30 film yang telah digarapnya.
Hingga akhirnya hari pertama pengambilan gambar film The Long March atau "Darah dan Doa" kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional sejak tahun 1962.
Kontribusi Usmar Ismail pada Nahdlatul Ulama
Selain karirnya di dunia perfilman dengan menjadi seorang sutradara legendaris, Usmar Ismail juga tercatat aktif di Nahdlatul Ulama, salah satu organisasi Islam di Indonesia.
Ia pernah menjabat sebagai Ketua l PBNU dari tahun 1964 hingga 1969. Perannya dalam organisasi ini menunjukkan keterlibatannya dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam tradisional di Indonesia.
Bukan itu saja, sebagai wadah kegiatan kebudayaan, pendidikan dan sosialisasi NU maka Usmar Ismail pada tahun 1962 mendirikan Institut Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) yang berdaa di bawah organisasi Islam terbesar Nahdlatul Ulama (NU).
Artikel Terkait
Siapa Pangeran Trunojoyo? Simak Kisah Perlawanan Tangguh Pahlawan Kebanggaan Madura yang Berani Menentang Penjajah
Siapa Ratu Kalinyamat? Kisah Pahlawan Nasional Wanita Pemberani dari Jepara, Penakluk Portugis dalam Pertempuran...
Jasa-Jasa Ratu Kalinyamat, Sosok Pahlawan Nasional Perempuan dari Jepara yang Melawan Penjajahan Portugis
Siapa Ida Dewa Agung Jambe? Sosok Pahlawan Nasional dari Klungkung Bali yang Gugur dalam Perang Puputan Melawan Belanda
Siapa Mohammad Tabrani? Sang Pemersatu Bahasa, Pahlawan Nasional dari Pamekasan Madura
Siapa Bataha Santiago? Pahlawan Nasional Pulau Sangihe yang Mengusung Gagasan Banala Pesasumbalaeng