Minggu, 19 Juli 2026

Jadi Simbol Maaf, Kuliner Lontong Ternyata Penuh Makna Filosofis, Salah Satu Makanan Tradisional Nusantara

Photo Author
Rizqillah, Sketsa Nusantara
- Rabu, 17 Juli 2024 | 13:26 WIB
Lontong, Makanan tradisonal sarat makna filosofis (Tangkapan Layar Youtube Bersama Stfyani)
Lontong, Makanan tradisonal sarat makna filosofis (Tangkapan Layar Youtube Bersama Stfyani)

SketsaNusatara.id - Siapa yang tak tahu makanan tradisional lontong. Kuliner yang terbuat dari beras ini sangat populer bagi masyarakat Indonesia.

Lontong bahkan bisa ditemui di berbagai daerah. Banyak hidangan yang memakai lontong sebagai bagian dari isiannya.

Sebut saja gado-gado, lontong opor, rujak cingur, lotek, tahu tek, lontong sayur, sate, bahkan soto.

Baca Juga: Siapa Sosok Saridin atau Syekh Jangkung? Mengenal Tokoh Penting dalam Penyebaran Islam di Jawa Sekaligus Putra Sunan Muria

Bagi masyarakat Jawa, lontong ternyata bukan cuma soal makanan khas. Ia juga memiliki makna filosofis.

Dilansir SketsaNusantara.id dari laman badanbahasa.kemedikbud.go.id, ternyata kata lontong berasal dari singkatan olone dadi kothong yang artinya kejelekannya sudah tidak ada lagi atau hilang.

Arti lontong juga erat kaitanya dangan bulan Ramadhan. Di bulan ini umat muslim berbondong bondong untuk melakukan amalan yang ganjarannya berlipat ganda. Termasuk dibukakannya pintu maaf.

Baca Juga: Sempat Hilang dari Peta, Misteri Selat Muria di Wilayah Jawa Tengah: Apakah Akan Muncul Lagi?

Setelah sebulan menjalankan ibadah puasa, Idul Fitri menjadi momen bermaafan.

Lontong, makanan yang dibungkus daun pisang ini seringkali dijadikan hidangan saat Hari Raya Idul Fitri.

Tekstur yang empuk, menjadi simbol hati yang lunak, mudah menerima nasehat, sehingga tak sulit menolong orang lain.

Baca Juga: 5 Hewan Asli Indonesia Ini Ternyata Sudah Punah: Ada Juga yang Hanya Ditemukan Fosilnya Saja?

Konsep inilah yang membuat masyarakat Jawa dikenal ramah, suka menolong. Harapannya juga bisa saling memaafkan.

Lontong juga mengajarkan kepada kita untuk bersedia minta
maaf ketika melakukan kesalahan.

Halaman:

Editor: Rizqillah

Sumber: kemendikbud.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X