Kamis, 4 Juni 2026

Jadi Momen Menyambung Silaturahmi, Inilah Asal Mula Tradisi Halal Bihalal di Indonesia yang Ternyata Lahir dari Ketegangan Dunia Politik

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Senin, 23 Maret 2026 | 14:30 WIB
Ilustrasi halal bihalal menyambung silaturahmi dengan saling bermaafan di Hari Lebaran (Tangkapan Layar YouTube Project Pop)
Ilustrasi halal bihalal menyambung silaturahmi dengan saling bermaafan di Hari Lebaran (Tangkapan Layar YouTube Project Pop)

Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan proses rekonsiliasi agar hubungan yang sebelumnya tegang bisa kembali baik.

Melalui acara halal bihalal, para tokoh yang sebelumnya berselisih duduk bersama, bersalaman, dan saling memaafkan.

Cara ini dinilai efektif untuk mencairkan suasana, sehingga tradisi halal bihalal kemudian terus dilakukan dan menjadi kebiasaan masyarakat hingga sekarang.

Sudah Ada Sejak Sebelum Kemerdekaan

Beberapa catatan menyebutkan bahwa istilah halal bihalal sebenarnya sudah dikenal sejak tahun 1930-an di Solo.

Saat itu, istilah tersebut digunakan dalam acara pertemuan masyarakat setelah Lebaran sebagai bentuk silaturahmi dan saling memaafkan.

Acara halal bihalal baru diperkenalkan dalam acara tingkat kenegaraan pada masa Presiden Soekarno. Sejak saat itu, halal bihalal tidak hanya dilakukan di lingkungan keluarga, tetapi juga diadakan di kantor, sekolah, organisasi, hingga instansi pemerintah.

Istilah halal bihalal kemudian dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang diartikan sebagai tradisi khas Indonesia yang dilakukan setelah Idul Fitri.

Makna Halal Bihalal dalam Kehidupan Masyarakat

Tujuan utama halal bihalal adalah menghilangkan kesalahan antar sesama dengan saling memaafkan  bertujuan untuk mempererat hubungan antar sesama manusia. 

Dalam tradisi ini, setiap orang dianjurkan untuk saling memaafkan, baik secara lahir maupun batin, agar hubungan kembali harmonis.

Pelaksanaan halal bihalal biasanya dilakukan setelah bulan Ramadan, terutama setelah Hari Raya Idul Fitri atau selama bulan Syawal.

Momen ini dianggap waktu yang tepat untuk membuka lembaran baru, memperbaiki hubungan, serta menumbuhkan rasa kasih sayang di antara sesama.

Hingga kini, halal bihalal tetap menjadi tradisi yang sangat khas di Indonesia. Lahir dari ketegangan situasi politik, tradisi ini justru berkembang menjadi budaya silaturahmi yang penuh makna dan terus dijaga oleh masyarakat dari generasi ke generasi.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini 

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: mui.or.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X