SketsaNusantara.id - Halal bihalal menjadi salah satu tradisi yang tidak pernah terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia. Setelah menjalani puasa selama sebulan penuh, masyarakat biasanya berkumpul bersama keluarga, tetangga, hingga rekan kerja untuk saling bersilaturahmi dan bermaaf-maafan.
Momen ini dikenal sebagai halal bihalal, sebuah tradisi khas Nusantara yang tidak ditemukan di negara lain.
Meski menggunakan istilah dari bahasa Arab, halal bihalal sebenarnya bukan budaya Timur Tengah. Tradisi ini lahir dan berkembang di Indonesia sebagai cara untuk mempererat hubungan antarmanusia setelah menjalani bulan Ramadan.
Lantas, bagaimana asal usul diadakannya Halal Bihalal? Dilansir SketsaNusantara.id dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), istilah halal bihalal secara harfiah berasal dari kata Arab "halala" atau "al-halal", yang memiliki makna menyelesaikan masalah, meluruskan benang kusut, atau melepaskan ikatan.
Dalam pengertian umum di Indonesia, halal bihalal dimaknai sebagai upaya menjadikan sesuatu yang sebelumnya tidak baik menjadi baik kembali, melalui saling memaafkan.
Tradisi ini juga sering diartikan sebagai proses membersihkan hubungan agar kembali suci, sehingga silaturahmi dapat terjalin tanpa rasa dendam atau kesalahpahaman.
Baca Juga: Download Segera 20 Link Twibbon Idul Fitri 2026 Terbaru, Sambut Lebaran dengan Penuh Suka Cita
Halal Bihalal Lahir dari Ketegangan Situasi Politik
Ketua MUI, KH Cholil Nafis menjelaskan bahwa halal bihalal dicetuskan pertama kali oleh salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Sejarah halal bihalal di Indonesia tidak lepas dari situasi politik pada masa awal kemerdekaan. Pada akhir tahun 1940-an, Indonesia masih menghadapi berbagai konflik internal, termasuk ketegangan di antara tokoh politik yang berpotensi memecah persatuan bangsa.
Pada tahun 1948, Presiden Soekarno mencari cara untuk mempertemukan para tokoh politik yang saat itu sedang berselisih. Ia kemudian meminta saran kepada ulama besar NU, bernama KH Abdul Wahab Hasbullah.
Kiyai Wahab mengusulkan agar diadakan pertemuan dalam suasana Idul Fitri dengan tujuan saling memaafkan yang kemudian disebut sebagai "halal bihalal".
Artikel Terkait
Rahasia Ketupat Lebaran Hemat Gas, Matang Sempurna dan Pulen Hanya dalam 30 Menit
Lebaran Gak Perlu Khawatir, Ini Cara Mengatasi Kue Kering yang Sudah Melempem, Tetap Renyah Meski Disimpan Berbulan-bulan dalam Toples
Kisah Unik Tradisi Mudik Lebaran 2026: Ada Pemudik yang Gowes Tempuh Perjalanan Jauh hingga Pulang Kampung Lintas Pulau Bawa Anabul
Pesan Habib Jafar di Momen Mudik Lebaran 2026, Ingatkan soal Nikmat Waktu Luang hingga Minta Rekomendasi Netizen Soal Ini
Dikenal Sebagai Menu Pendamping saat Lebaran, Emping Melinjo Juga Jadi Snack Premium Mahal di Luar Negeri, Loh