SketsaNusantara.id - Cerita tentang manusia Jawa sebagai keturunan dewa hidup dalam tradisi lisan dan naskah kuno.
Kisah ini berkembang turun-temurun dan membentuk pandangan spiritual masyarakat Jawa.
Di dalamnya tersimpan pemahaman tentang asal-usul manusia, alam, dan hubungan dengan Sang Pencipta.
Baca Juga: Misteri Asal-usul Pulau Jawa: Benarkah Berasal dari Nama Sebuah Tanaman?
Dikuti dari buku Hikayat Bumi Jawa, Dalam bahasa Jawa, istilah Wong Jawa berasal dari makna wahong Jawa yang dimaknai sebagai keturunan dewa.
Sebutan Tiyang Jawa juga ditafsirkan dari Ti Hyang Jawa, yang mengandung arti serupa. Pandangan ini menguatkan keyakinan bahwa manusia Jawa memiliki asal spiritual dari alam kahyangan.
Dalam kisah pedalangan wayang kulit, keindahan Pulau Jawa menarik perhatian para dewa.
Mereka turun ke marcapada dan mendirikan kerajaan-kerajaan awal di tanah Jawa. Dari sinilah berbagai legenda kerajaan kuno bermula dan berkembang dalam tradisi budaya Jawa.
Salah satu figur yang kerap dikaitkan adalah Raja Jayabaya dari Kediri. Ia dipercaya sebagai perwujudan Dewa Wisnu yang turun ke bumi.
Sosok ini dikenal luas karena ramalan dan ajaran bijaknya yang menuntun kehidupan sosial dan kepemimpinan.
Dalam sumber lain disebutkan adanya kerajaan dewa pertama di Jawa Dwipa. Kerajaan ini berlokasi di kawasan Gunung Gede Merak dengan raja Dewo Eso bergelar Wisnudewo. Permaisurinya bernama Dewi Pratiwi, putri Begawan Lembu Suro yang bermukim di Dieng.
Dieng dimaknai sebagai Adhi Hyang yang berarti suksma sempurna. Perkawinan Wisnudewo dan Dewi Pratiwi melambangkan penyatuan unsur langit dan bumi. Dari sinilah manusia Jawa dipahami sebagai perpaduan spiritual dan jasmani.
Kisah berlanjut dengan turunnya Betara Guru dari Swargaloka ke Gunung Mahendra. Gunung ini kini dikenal sebagai Gunung Lawu yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di sana, Betara Guru mendirikan kerajaan Mahendra sebagai perwujudan kahyangan di bumi.
Artikel Terkait
Tanamkan Shalawat Sejak Dini, Ponpes Falahul Muhibbin Jombang Gelar Festival Banjari se Jawa Timur
Bir Jawa, Minuman Tradisional Kraton Yogyakarta Hasil Akulturasi Budaya Favorit Sultan Hamengkubuwono VIII
Kolaborasi Edukasi dan Kemanusiaan, SMKN 4 Jember Hadirkan Putri Jawa Timur 2025 dalam Festival Siaga Bencana
Di Balik Lawakan Ludruk Jawa Timur, Ada Nilai Islam yang Disampaikan Lewat Cerita, Musik, dan Dialog
Sego Wiwit: Sajian Ritual Petani Jawa Penanda Awal Panen yang Menyimpan Sejarah dan Makna Budaya