SketsaNusantara.id - Gunung Bromo menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup populer bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, berlokasi di Kabupaten Probolinggo, Malang, Pasuruan dan Lumajang, Jawa Timur.
Namun pada bulan 12 kalender jawa, tepatnya pada hari ke-14 dan 15 Gunung Bromo ditutup untuk wisatawan.
Hal ini dikarenakan masyarakat Suku Tengger yang akan menggelar upacara sesembahan bernama Yadnya Kasada.
Baca Juga: Mepe Kasur Ritual Asli Suku Osing Banyuwangi, Dilakukan Seharian Penuh dan Diakhiri dengan Tumpeng Sewu
Suku Tengger merupakan penduduk asli wilayah di sekitar pegununggan Bromo-Semeru yang tersebar di 4 wilayah yakni Tosari Kabupaten Pasuruan, Sukapura Kabupaten Probolinggo, Ngadas Kabupaten Malang dan Ranupane, Senduro Kabupaten Lumajang.
Dalam upacara sesembahan Yadnya Kasada, Suku Tengger akan melarungkan sesaji berupa hasil panen tanaman dan ternak, bahkan uang ke dalam kawah Gunung Bromo.
Pelaksanaan Yadnya Kasada selalu dilakukan di Gunung Bromo, bahkan semua ibadah Suku Tengger digelar disana. Sebab Gunung Bromo merupakan kiblat bagi orang-orang Suku Tengger.
Baca Juga: 3 Suku Pesisir Nusantara yang Hidup di Atas Laut, dari Riau hingga Lembata
Dilansir SketsaNusantara.id dari laman explorebromo.com, tradisi upacara sesembahan Yadnya Kasada di Gunung Bromo telah dilakukan sejak zaman keturunan Kerajaan Majapahit.
Hal ini berawal dari pasangan keturunan Majapahit yakni Jaka Seger dan Roro Anteng sampai usia pernikahan sewindu belum dikaruniai anak.
Demi memiliki keturunan, Jaka Seger dan Roro Anteng bertapa selama 6 tahun dengan kiblat yang selalu berubah-ubah.
Baca Juga: 5 Fakta Unik Baju Sakera Khas Madura, Simbol Keberanian serta Menjadi Lambang Masyarakat Santri Suku Madura
Akhirnya permintaan pasangan ini dikabulkan dengan persyaratan anak terakhir harus dikorbankan di kawah Gunung Bromo.
Beberapa tahun kemudian, rupanya kedua pasangan ini tidak menepati janjinya untuk mengorbankan anak terakhirnya yang bernama R Kusuma.
Sehingga akhirnya, terdengar adanya suara gemuruh dan semburan api dari dalam kawah Gunung Bromo.
Baca Juga: Apa itu Wulan Kapitu? Tradisi Ritual Suci Masyarakat Tengger Mengakibatkan Pembatasan Akses Wisata ke Gunung Bromo, Ini Maknanya
Jaka Seger dan Rara Anteng langsung berfikir bahwa hal tersebut terjadi lantaran Gunung Bromo menagih janji untuk mengorbankan anak terakhirnya.
Kemudian, R Kusuma disembunyikan di sekitar Desa Ngadas. Namun sayangnya, semburan api dari kawah Gunung Bromo sampai ke desa tersebut.
Hingga akhirnya putra terakhir Jaka Seger dan Rara Anteng secara sukarela pergi ke kawah Gunung Bromo. Lantas berkata dari dalam kawah dan meminta saudara-saudaranya agar selalu hidup rukun.
Baca Juga: Apa Itu Yadnya Kasada? Upacara Adat Masyarakat Asli Bromo Suku Tengger
R Kusuma rela berkorban mewakili saudara-saudaranya dan masyarakat setempat. Selain itu, dirinya juga berpesan pada setiap hari ke-14 Kasada (bulan ke-12 kalender jawa) agar diberi sesaji berupa hasil bumi.
Hal itulah yang menjadi cikal-bakal adanya upacara sesembahan Yadnya Kasada yang dilakukan Suku Tengger di kawah Gunung Bromo.
Pada saat pelaksanaan upacara Yadnya Kasada para Suku Tengger mendaki Gunung Bromo untuk melarungkan sesaji ke dalam kawah.
Meski harus mendaki Gunung Bromo, tradisi tersebut tetap dilakukan oleh Suku Tengger setiap tahunnya sampai sekarang.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Jejak Kerajaan Majapahit di Gunung Bromo, Ada Desa Tempat Suci yang Dihuni Abdi Dewata Sejak Zaman Hayam Wuruk?
Rasakan Sensasi Menginap dengan View Gunung Bromo Cuma di Bromo Hillside! Bisa Lihat Pemandangan Sambil Mandi
Tradisi Perak di Jantung Yogyakarta, Inilah Pesona Kampung Wisata Purbayan Kotagede dengan Sejarah Mataram Islam
Mengenal Kampung Wisata Pandeyan Jogja, Kampung Pande Gamelan yang Hidupkan Wayang Kulit dan Tradisi Bakdo Kupat
Makna Hajad Dalem Labuhan yang Digelar Keraton Yogyakarta, Tradisi Sakral Parangkusumo Sarat Nilai Spiritual dan Budaya
Di Balik Batik Tulis Keraton Mataram, Desa Giriloyo Menjaga Tradisi Membatik Turun Temurun sejak Abad 17