Kamis, 4 Juni 2026

Di Balik Batik Tulis Keraton Mataram, Desa Giriloyo Menjaga Tradisi Membatik Turun Temurun sejak Abad 17

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 24 Januari 2026 | 17:30 WIB
Ilustrasi batik di Yogyakarta. (Pexels/Ruyat Supriazi)
Ilustrasi batik di Yogyakarta. (Pexels/Ruyat Supriazi)

SketsaNusantara.id - Batik tulis memiliki posisi penting dalam sejarah Kerajaan Mataram.

Sejak awal berdiri, batik tulis ditetapkan sebagai busana resmi lingkungan keraton. Hingga kini, jejak tradisi tersebut masih dapat ditemukan di Yogyakarta.

Salah satu wilayah yang dikenal sebagai rujukan batik tulis khas keraton adalah Desa Giriloyo.

Baca Juga: Bukan Liburan Biasa, Desa Wisata Adat Kemiren Banyuwangi Ajak Wisatawan Mengenal Adat dan Budaya, Seperti Kembali ke Zaman Dulu

Desa ini berada di kawasan Makam Imogiri, tepatnya di kaki perbukitan bawah kompleks makam raja-raja Mataram. Lingkungan sejarah dan budaya masih terasa kuat di wilayah ini.

Sebagian besar penduduk laki-laki Desa Giriloyo berprofesi sebagai abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Sementara itu, kaum perempuannya dikenal sebagai pengrajin batik tulis. Pola kehidupan tersebut membentuk Giriloyo sebagai desa dengan tradisi membatik yang mengakar.

Baca Juga: Bukan Sekadar Liburan, Desa Wisata Kebonagung Bantul Ajak Wisatawan Menanam Padi hingga Belajar Budaya Desa

Dilansir dari Jogjaprov.go.id, Desa Giriloyo dikenal sebagai sentra batik tulis terbesar di Yogyakarta. Wilayah ini terdiri dari tiga dusun, yakni Dusun Giriloyo, Karang Kulon, dan Cengkehan.

Hampir seluruh pembatik memiliki kemampuan membatik yang diwariskan secara turun temurun dalam keluarga.

Tradisi batik tulis di Giriloyo disebut telah berkembang sejak abad ke-17. Keahlian membatik diwariskan dari generasi ke generasi tanpa terputus. Pola, teknik, dan filosofi batik yang digunakan tetap merujuk pada tradisi keraton Mataram.

Selain sebagai sentra produksi, Desa Giriloyo juga dikembangkan sebagai desa wisata.

Pengelola menyediakan paket wisata membatik dengan jumlah peserta minimal lima orang dan maksimal lima ratus orang. Program ini dirancang untuk mengenalkan proses batik tulis secara langsung.

Dalam paket wisata tersebut, setiap peserta akan mendapatkan pendampingan dari pengrajin batik setempat.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: jogjaprov.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X