Kamis, 4 Juni 2026

Dari Sedekah Laut hingga Nyadran, Inilah Makna Petik Laut sebagai Warisan Budaya dan Pengingat Pentingnya Menjaga Laut

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 15 November 2025 | 22:00 WIB
Ilustrasi sedekah laut para nelayan di Nusantara. (Pexels/Lucas Klein)
Ilustrasi sedekah laut para nelayan di Nusantara. (Pexels/Lucas Klein)

SketsaNusantara.id - Tradisi masyarakat pesisir di Indonesia sangat beragam. Setiap daerah memiliki cara masing-masing dalam merayakan rasa syukur. Salah satu yang tetap lestari adalah Petik Laut, sebuah ritual yang hidup di banyak wilayah.

Petik Laut dikenal sebagai upacara adat nelayan. Tradisi ini memiliki tujuan utama sebagai ungkapan syukur. Para nelayan menggelar ritual ini setelah memperoleh hasil laut yang cukup. Upacara dilakukan sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan.

Secara harfiah, istilah ini merujuk pada kegiatan memperoleh hasil laut. Kata “petik” berarti mengambil atau memperoleh.

Baca Juga: Legenda Dewa Varuna dan Makara Gajahmina: Pelindung Laut, Pembawa Rezeki bagi Para Nelayan

Para nelayan memaknai upacara ini sebagai wujud syukur atas rezeki laut. Mereka juga berharap keselamatan saat melaut.

Dilansir SketsaNusantara.id dari buku Warisan Bahari Indonesia, Indonesia yang terdiri dari banyak suku memiliki beragam tradisi serupa. Ada daerah yang menyebutnya Nyadran.

Ada juga yang menggunakan istilah sedekah laut. Nama yang berbeda tidak mengubah tujuan ritual tersebut. Semuanya diarahkan pada ucapan syukur atas hasil tangkapan.

Baca Juga: 2 Nelayan Puger Jember Habisi Sepupu Usai Pesta Miras, Polisi Ungkap Motif, Kronologi Lengkap, dan Barang Bukti

Di wilayah pesisir utara Jawa, upacara ini digelar setiap tahun. Ritual dilakukan oleh masyarakat nelayan setempat. Pelaksanaan upacara dimulai dengan doa bersama. Doa dipimpin oleh tokoh agama. Bentuk pelaksanaannya menyesuaikan agama mayoritas masyarakat.

Dalam beberapa daerah, pemimpin doa berbeda-beda. Kalau di daerah Flores dipimpin oleh seorang pastor Katolik.”

Di Bali, upacara dipimpin oleh pedanda Hindu-Bali. Di banyak desa pesisir Jawa, tokoh agama Islam memimpin doa sebelum pelarungan.

Proses pelarungan menjadi bagian penting dalam tradisi ini. Sesaji biasanya ditempatkan dalam miniatur perahu.

Makanan dan bahan simbolis diletakkan rapi di dalamnya. Perahu kecil ini kemudian dilarung menuju laut lepas. Para nelayan mengiringi pelarungan dengan perahu mereka.

Tradisi ini tidak hanya berupa ritual semata. Banyak desa menjadikannya sebagai hiburan masyarakat.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Warisan Bahari Indonesia, Bambang Budi Utomo, Pustaka Obor,

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X