SketsaNusantara.id - Kekayaan budaya Indonesia terdiri dari beragam bentuk, mulai dari kesenian, bahasa, kuliner, hingga aktivitas olahraga.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat sebuah warisan budaya yang unik yakni berupa olahraga panahan tradisional dengan sebutan Jemparingan.
Berbeda dengan panahan pada umumnya, aktivitas olahraga dari provinsi yang terkenal akan kuliner gudegnya ini memiliki keunikan tersendiri.
Baca Juga: Raja Cilik Yogyakarta yang Dibesarkan Pangeran Diponegoro dan Wafat di Usia Muda
Mulai dari sejarah yang panjang, filosofi yang terkandung di dalamnya, hingga teknik memanah yang dilakukan.
Berikut beberapa informasi tentang Jemparingan yang menarik untuk diketahui.
Asal-Usul Jemparingan
Dikutip SketsaNusantara.id dari laman resmi Portal Informasi Indonesia, Jemparingan sudah ada sejak Kerajaan Mataram dan disebut dengan Jemparingan Gaya Mataram Ngayogyakarta.
Raja pertama Yogyakarta yakni Sri Sultan Hamengku Buwono I mendorong pengikutnya untuk belajar memanah sebagai upaya membangun watak ksatria.
Watak ksatria tersebut terdiri dari 4 nilai yakni sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh.
Sawiji berarti konsentrasi, greget berarti semangat, sengguh berarti percaya diri, dan ora mingkuh yang berarti memiliki rasa tanggung jawab.
Baca Juga: 7 Warisan Pangeran Mangkubumi yang Membentuk Yogyakarta hingga Kini
Filosofi Jemparingan
Artikel Terkait
Kenapa Geplak Bantul Wajib Jadi Oleh-Oleh Wajib dari Yogyakarta? Ini Cerita dan Daya Tariknya
Warung Legendaris Yogyakarta sejak 1945 yang Bikin Orang Rela Antre Setiap Malam demi Semangkuk Bakmi Hangat
Sarapan di Bantul? Coba Soto Kemasan Yogyakarta, Unik Pakai Kemangi dan Tahu Bacem sejak 1963
Bukan karena Kotor, Ini Alasan Mie Lethek dari Bantul Yogyakarta Dibiarkan Berwarna Kusam
Warung Susu Segar di Yogyakarta Harga Mahasiswa, Cita Rasanya Bikin Kangen Tiap Malam
Tembang Macapat Jawa Tengah vs Yogyakarta: Sama-Sama Merdu, Tapi Kenapa Rasanya Beda?