Kamis, 4 Juni 2026

Warung Legendaris Yogyakarta sejak 1945 yang Bikin Orang Rela Antre Setiap Malam demi Semangkuk Bakmi Hangat

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Jumat, 10 Oktober 2025 | 21:00 WIB
Bakmi legendaris Yogyakarta. (Jogjaprov.go.id)
Bakmi legendaris Yogyakarta. (Jogjaprov.go.id)

SketsaNusantara.id - Di tengah derasnya arus kuliner modern, ada satu warung di Yogyakarta yang tetap berdiri kokoh sejak masa kemerdekaan.

Namanya Mie Pak Rebo, atau yang juga dikenal sebagai Bakmi Kintelan.

Setiap sore, aroma kaldu ayam kampung yang khas menggoda siapa pun yang melintas di Jalan Brigjen Katamso, Keparakan, Mergangsan.

Baca Juga: Warung Ikan Bakar Khas NTT di Yogyakarta, Konsisten Bikin Rindu Rasa Asli Timur

Warung ini bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang sejarah panjang yang hidup bersama waktu.

Didirikan pada tahun 1945, Mie Pak Rebo menjadi salah satu warung mie tertua di Yogyakarta. Bahkan, warung ini berdiri lebih dulu dibandingkan Mie Mbah Mo di Bantul yang kini terkenal di kalangan pencinta bakmi Jawa.

Menariknya, Pak Rebo dan Mbah Mo adalah saudara kandung, keduanya membawa tradisi kuliner keluarga yang sama: sederhana, tapi memikat.

Baca Juga: Selamat Tinggal Rokok Ilegal, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Siap Sikat hingga yang Ada di Toples Warung

Setiap hari, warung ini buka mulai pukul 17.00 hingga 23.00. Ketika matahari mulai tenggelam, pelanggan berdatangan silih berganti.

Tak jarang, antrean panjang terlihat di depan warung yang tampak sederhana namun penuh nostalgia. Mie goreng dan mie rebus menjadi dua menu utama yang tak pernah lekang oleh waktu.

Dilansir dari Jogjaprov.go.id, setelah Pak Rebo wafat, usaha ini diteruskan oleh istrinya dengan bantuan anak-anak mereka. Meski berganti generasi, rasa dan cara memasak tetap dipertahankan sebagaimana dulu.

Mereka memindahkan lokasi warung dari tempat semula di utara Sekolah Dasar Kintelan ke sisi selatannya, tanpa mengubah esensi rasa yang sudah melekat di lidah para pelanggan lama.

Dalam satu hari biasa, warung ini mampu menjual sekitar 200 porsi mie. Jumlah itu menghabiskan hingga 8 kilogram mie kuning, 7–8 ekor ayam kampung, dan sekitar 200 butir telur itik. Angka ini mencerminkan betapa kuatnya loyalitas pelanggan terhadap cita rasa tradisional yang diwariskan turun-temurun.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: jogjaprov.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X