Memiliki nama dari kata “Jemparing” yang berarti anak panah, olahraga tradisional ini mengandung filosofi yang dalam.
Filosofi yang terkandung dalam olahraga ini adalah “pamenthanging gandewa pamanthening cipta”.
Istilah tersebut mengandung arti “membentangnya busur seiring dengan konsentrasi yang ditujukan pada sasaran yang dibidik”.
Makna dari filosofi ini menekankan bahwa manusia yang memiliki cita-cita hendaknya berkonsentrasi penuh pada cita-citanya agar dapat tercapai.
Keunikan Teknik Jemparingan
Dikutip SketsaNusantara.id dari laman resmi Museum Sonobudoyo Yogyakarta, keunikan dari Jemparingan adalah teknik membidik yang tidak menggunakan mata.
Saat membidik, busur atau Gandewa diposisikan di depan perut dan pemanah mengandalkan perasaan untuk mencapai sasaran yang disebut dengan wong-wongan atau bandulan.
Selain itu keunikan lainnya terletak pada posisi duduk yang dilakukan oleh pemanah saat membidik sasaran.
Posisi duduk tersebut memiliki makna filosofi sebagai bentuk kesederhanaan dan keseimbangan.
Sehingga Jemparingan bukan hanya sekadar olahraga namun juga sebagai bentuk meditasi dan refleksi diri.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Kenapa Geplak Bantul Wajib Jadi Oleh-Oleh Wajib dari Yogyakarta? Ini Cerita dan Daya Tariknya
Warung Legendaris Yogyakarta sejak 1945 yang Bikin Orang Rela Antre Setiap Malam demi Semangkuk Bakmi Hangat
Sarapan di Bantul? Coba Soto Kemasan Yogyakarta, Unik Pakai Kemangi dan Tahu Bacem sejak 1963
Bukan karena Kotor, Ini Alasan Mie Lethek dari Bantul Yogyakarta Dibiarkan Berwarna Kusam
Warung Susu Segar di Yogyakarta Harga Mahasiswa, Cita Rasanya Bikin Kangen Tiap Malam
Tembang Macapat Jawa Tengah vs Yogyakarta: Sama-Sama Merdu, Tapi Kenapa Rasanya Beda?