SketsaNusantara.id - Tembang macapat adalah salah satu karya sastra Jawa paling populer yang hidup lintas generasi.
Puisi tradisional ini tidak hanya dibaca, tapi juga dilantunkan dengan nada khas yang merdu. Di balik alunannya yang lembut, macapat menyimpan nilai moral, pendidikan, dan ajaran hidup yang mendalam.
Karya ini tumbuh dan berkembang di berbagai wilayah Jawa, namun dua daerah yang paling dikenal menjaga tradisinya hingga kini adalah Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Meskipun sekilas tampak serupa, ternyata tembang macapat di kedua daerah ini memiliki perbedaan menarik dari sisi sejarah dan gaya penyampaian.
Dilansir SketsaNusantara.id dari unggahan akun Instagram @syiarbudayaislam, macapat biasanya digunakan untuk menyampaikan nilai-nilai moral, pendidikan, hingga ajaran hidup.
Fungsinya sebagai media dakwah dan pendidikan menjadikan tembang ini mudah diterima masyarakat dari berbagai kalangan.
Makna dan Jenis Macapat
Macapat dikenal luas sebagai bentuk puisi yang dibacakan dengan lantunan nada atau tembang.
Pada masa lalu, ia menjadi media penting untuk menyebarkan pengetahuan dan nasihat kehidupan. Tembang ini mengiringi perjalanan manusia dari lahir hingga meninggal dunia.
Dalam tradisi Jawa, dikenal sebelas jenis tembang macapat yang masing-masing memiliki makna filosofis tersendiri:
Artikel Terkait
Festival Rakyat Ramadhan 1446 H Sambut Kedatangan Bupati dan Wakil Bupati Jember, Nyoman: Kita Hadirkan Kesenian dan Kebudayaan
Unik dan Menyeramkan, Inilah Kesenian Can Macanan Kadduk dan Ta Butaan yang Tertua di Jember
5 Fakta Kesenian Wayang Cina Jawa yang Nyaris Diberangus Orde Baru: Kini Hanya Tersisa 2 Wacinwa di Dunia
Wujudkan Keberagaman Melalui Apel Kebangsaan Cinta Pluralisme, Jember Gelar Berbagai Kesenian Leluhur