1. Maskumambang, menggambarkan janin dalam kandungan.
2. Mijil, melambangkan proses kelahiran.
3. Kinanthi, masa anak-anak yang perlu bimbingan.
4. Sinom, fase remaja atau masa muda.
5. Asmarandana, menggambarkan masa kasmaran.
6. Gambuh, masa menemukan pasangan hidup.
7. Dhandanggula, puncak kebahagiaan.
8. Durma, masa berbagi dan beramal.
9. Pangkur, masa menghindari hawa nafsu.
10. Megatruh, menggambarkan kematian.
11. Pucung, fase penguburan dan akhir kehidupan manusia.
Kesebelas tembang ini menjadi cerminan filosofi hidup masyarakat Jawa yang sarat makna spiritual dan etika sosial.
Ciri Khas Macapat Jawa Tengah
Macapat di Jawa Tengah muncul pada masa akhir Kerajaan Majapahit dan mencapai puncaknya ketika ajaran Islam mulai berkembang melalui para Wali Songo. Dalam perkembangannya, tembang ini digunakan sebagai media dakwah dan pendidikan moral.
Kekhasan macapat Jawa Tengah terletak pada sifatnya yang fleksibel. Gaya penyajiannya tidak terlalu terikat pada pakem tertentu, sehingga memberi ruang kreativitas bagi penembang. Irama dan bahasa yang digunakan lebih cair, menyesuaikan konteks sosial masyarakat setempat.
Artikel Terkait
Festival Rakyat Ramadhan 1446 H Sambut Kedatangan Bupati dan Wakil Bupati Jember, Nyoman: Kita Hadirkan Kesenian dan Kebudayaan
Unik dan Menyeramkan, Inilah Kesenian Can Macanan Kadduk dan Ta Butaan yang Tertua di Jember
5 Fakta Kesenian Wayang Cina Jawa yang Nyaris Diberangus Orde Baru: Kini Hanya Tersisa 2 Wacinwa di Dunia
Wujudkan Keberagaman Melalui Apel Kebangsaan Cinta Pluralisme, Jember Gelar Berbagai Kesenian Leluhur