Didukung penuh oleh komunitas sejarah seperti Yayasan Studi Lingkar Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya serta Yayasan Studi Sejarah Kulit Pohon Jember, acara ini mengandalkan kerja kolektif yang melibatkan peneliti, pegiat budaya, hingga fasilitator lokal.
Baca Juga: Cara Unik Sambut Ramadhan, Muslimat di Nganjuk Bagikan Mukena Gratis
Tak hanya membidik peningkatan literasi sejarah, “Travelling Vintage” juga diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat identitas lokal, menggerakkan pelestarian cagar budaya, serta membuka potensi wisata sejarah yang berkelanjutan di Nganjuk.
Di tengah arus modernisasi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa mengenal sejarah bukan langkah mundur, melainkan pijakan yang kokoh untuk melangkah lebih maju. Nganjuk pun membuktikan, bahwa merawat warisan budaya bisa dimulai dari langkah kecil yaitu dengan mengenali, memahami, dan mencintai apa yang ada di sekitar.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Mengenal Sisi Lain Nusakambangan: Bukan Hanya Penjara Mencekam, Tetapi Surga Flora, Fauna, dan Jejak Sejarah
Sejarah Tradisi Toron yang Sudah Ada Sebelum Abad ke-19, Ternyata Ini Alasan Warga Madura Mudik Besar-Besaran saat Hari Raya Idul Adha
3 Fakta Sejarah Kota Metro yang Jarang Diungkap Jelang Ulang Tahun ke-88 pada Senin 9 Juni 2025
Sejarah Jamu, Bukan Sekedar Minuman Kesehatan! Warisan Budaya Nusantara yang Sudah Ada Sejak Berabad-abad
7 Kasta Zaman Majapahit dan Demak yang Jarang Dibahas Buku Sejarah, Ada 3 Golongan Buangan yang Menyedihkan di Era Pra-Islam