Kamis, 4 Juni 2026

Mengenal Sisi Lain Nusakambangan: Bukan Hanya Penjara Mencekam, Tetapi Surga Flora, Fauna, dan Jejak Sejarah

Photo Author
Dinzha Fairrana Atsir, Sketsa Nusantara
- Senin, 26 Mei 2025 | 10:30 WIB
Ilustrasi hutan Nusakambangan yang kaya akan ekosistem unik dan langka. (Freepik/wirestock)
Ilustrasi hutan Nusakambangan yang kaya akan ekosistem unik dan langka. (Freepik/wirestock)

 

SketsaNusantara.id - Pulau Nusakambangan identik dikenal sebagai penjara yang mengurung narapidana kelas kakap. Manusia-manusia berbahaya yang telah melakukan kejahatan besar dan keji dikurung dalam sel dengan keamanan maksimal, terus diawasi dan terisolasi dari masyarakat.

Pulau ini sudah difungsikan sebagai penjara sejak zaman kolonial Belanda, lalu digunakan Presiden Soeharto untuk mengurung para pembangkang politik pada era Orde Baru.

Sejarahnya yang panjang dan suram membuat Nusakambangan dijuluki sebagai “Pulau Kematian”. Banyak eksekusi mati narapidana dilangsungkan di tempat ini.

Baca Juga: Istri Zul Zivilia Buka Suara Perihal Isu Suaminya Bebas dari Penjara Dalam Waktu Dekat, Ternyata Begini Alasannya

Akan tetapi, Nusakambangan menyimpan lebih banyak makna dibanding sekadar tempat pengasingan para penjahat. Pulau ini merupakan saksi sejarah serta rumah bagi hewan-hewan yang terancam punah.

Ekosistem yang Kaya dan Unik

Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube @Dokumentasi, pulau yang terletak di Jawa Tengah itu memiliki ekosistem unik yang terdiri dari berbagai satwa liar dan pohon yang langka.

Pada tahun 1923, daerah timur pulau tersebut ditetapkan sebagai kawasan cagar alam (CA) oleh pemerintah Hindia Belanda.

Baca Juga: Intip 7 Fakta Penting Kasus Isa Zega yang Kini Resmi Dijatuhi Hukuman Penjara, Ternyata Ingatkan Soal Ini

Status tersebut diperkuat oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2014 melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.2997/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 17 April 2014 dengan luas 210,9 hektar.

Dengan menelusuri CA tersebut, kamu akan menyaksikan pepohonan gaharu dan plahlar yang merupakan tanaman endemik di Nusakambangan menjulang tinggi memenuhi hutan.

Sementara itu, salah satu satwa liar di Nusakambangan yang sering jadi perbincangan adalah macan tutul kumbang. Sejauh ini, ada dua jenis yang sudah ditemukan, yaitu yang bercorak totol dan berwarna hitam.

Saat ini, populasinya masih cukup terjaga dan yang kita tahu ada 18 ekor. Namun karena termasuk hewan langka, macan tutul kumbang sangat dilindungi dari perburuan liar.

Ada pula buaya muara yang merupakan spesies buaya terbesar di dunia sepanjang 3 meter, burung kangkareng perut putih, lutung, kijang, dan masih banyak lagi.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X