sketsa

Spekulasi Liar Menjelang Pemilihan Ketua Umum PB PMII 2024

Senin, 19 Agustus 2024 | 20:55 WIB
Mohammad Faqih Al Haramain. (Dok. SketsaNusantara.id)

Sedangkan ‘atau’ adalah kata penghubung untuk menandai pilihan di antara beberapa hal (pilihan). Sehingga redaksi hukum di atas memberikan kualifikasi kepada calon ketua yang mendaftar baik itu PC, PKC dan/atau PB sebagai pilihan yang dianggap setara.

Spekulasi yang ketiga Faqih dianggap mendapatkan dukungan dari istana. Tentu hal ini merupakan menggiringan opini dari kontestan lainnya untuk membidik afeksi seluruh anggota, kader maupun alumni PMII.

Kata M.Foucault, wacana memiliki dimensi pragmatis; 1) Makna/maksud (locutionary) merupakan teks/gambar, 2) Kekuatan (Illocutionary) tersurat atau tersirat, 3) dan efek (perlocutionary) membuat orang percaya dan mendorong untuk melakukan.

Baca Juga: Biografi Mahbub Djunaidi, Tokoh NU dengan Julukan Sang Pendekar Pena, Benarkah Menjadi Ketua Umum PMII yang Pertama?

Begitupun wacana yang dibangun dalam istilah “Istana” baik secara tersurat maupun tersirat, orang yang memproduksi pesan bertujuan untuk mengajak orang percaya bahwa majunya Faqih melekat dengan intervensi istana.

Sehingga seluruh anggota dan kader PMII dibuat khawatir dengan bayanag bayang penguasa. Tidak ada fakta fakta koheren yang menghubungkan Faqih dengan kepentingan istana.

Sekarang mari kita berpikir logis, secara aksesibilitas lebih dekat siapa antara pengurus PC, PKC dan PB dengan Istana? Bukankan kandidat yang berporses di pusat justru lebih potensial dibayang bayangi elite istana?

Baca Juga: 3 Fakta Mahbub Djunaidi, Selain Ketua Umum Pertama PMII Pernah Memimpin PWI Pusat, Benarkah?

Dari semua narasi di atas tidak ada satupun fakta yang membenarkan spekulasi liar tersebut. Satu satunya kebenaran mengapa sahabat Faqih menjadi musuh bersama (common enemies) karena menjadi competitor terkuat bagi calon lainnya.

Faqih mendapat banyak perhatian kader PMII se-Indonesia karena dianggap paling serius untuk membawa perubahan dan kemajuan PMII ke depan. Sebagai satu satunya kandidat yang menuangkan gagasan dalam buku setebal 50 halaman saat mencalonkan dirinya menjadi keta umum.

Buku tersebut menjadi modal awal, bahwa untuk menjadi ketua umum PB PMII wajib memiliki wawasan luas dan mendalam. Terbukti hingga saat ini banyak cabang-cabang se-Idonesia yang menaruh harapan besar terhadap Faqih Al Haramain.***

*Penulis merupakan alumni PMII Rayon Ushuluddin dan lulusan Magister Aqidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB