Tidak hanya itu, proyek geothermal juga berpotensi menimbulkan ledakan dan kebocoran pipa akibat tekanan uap air yang tinggi.
Insiden semacam ini telah terjadi di beberapa proyek geothermal lain, seperti di PLTP Dieng yang pernah mengalami ledakan pada tahun 2007 dan berulang kembali pada tahun 2016 dan 2022.
Di Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP), kebocoran gas menyebabkan kematian lima orang warga pada tahun 2021, serta puluhan korban lainnya yang mengalami keracunan.
Risiko ini jelas bukan sesuatu yang bisa diabaikan, apalagi jika proyek geothermal di Arjuno Welirang dipaksakan untuk beroperasi.
Kawasan Arjuno Welirang sendiri merupakan kawasan lindung dengan beragam biodiversitas yang harus dijaga. Di dalamnya terdapat Taman Hutan Raya R. Soerjo yang menjadi cagar biosfer dengan luas mencapai 27.868,3 hektar.
Fungsi ekologis Gunung Arjuno Welirang sangat vital bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya, termasuk bagi warga di Kota Batu, Kabupaten Malang, Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten Pasuruan yang menggantungkan hidup mereka pada air yang mengalir dari gunung ini.
Namun, proyek geothermal ini tetap dipaksakan dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk akademisi dan pemerintah.
Proses sosialisasi yang dilakukan pun terkesan terbatas dan kurang melibatkan masyarakat terdampak. Padahal, masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang transparan dan terlibat dalam setiap proses yang berkaitan dengan kehidupan mereka.
Keterlibatan akademisi, khususnya dari Universitas Brawijaya, dalam melegitimasi proyek ini juga menimbulkan pertanyaan etis.
Institusi pendidikan seharusnya menjadi ruang kritis yang mempertanyakan dan mengkaji setiap langkah yang diambil, bukan justru menjadi alat untuk melegitimasi eksploitasi sumber daya alam.
Baca Juga: Resmi! Megawati Umumkan Calon Kepala Daerah yang Diusung oleh PDI Perjuangan
Di tengah semua ini, jelas bahwa Pemerintah Kota Batu, Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Mojokerto harus mempertimbangkan kembali dampak lingkungan dan sosial dari proyek geothermal ini.
Kehidupan masyarakat dan kelestarian alam Arjuno Welirang harus menjadi prioritas utama. Jika tidak, proyek ini bisa menjadi ancaman besar bagi ekosistem dan kehidupan manusia yang selama ini bergantung pada Gunung Arjuno Welirang.***