SketsaNusantara.id - Gunung Arjuno Welirang, dengan pesonanya yang megah dan fungsinya sebagai sumber kehidupan, kini berada di persimpangan yang penuh tantangan.
Proyek geothermal yang tengah direncanakan di kawasan ini telah menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan masyarakat, terutama mereka yang tinggal di sekitarnya.
Sebuah kegiatan sosialisasi yang diadakan oleh lembaga think tank RenovEnergy di Kota Batu baru-baru ini, mengundang kontroversi.
Dilansir SketsaNusantara.id dari walhijatim.org, acara ini diadakan secara tertutup dan hanya untuk undangan terbatas, sehingga menimbulkan pertanyaan besar mengenai keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang berdampak langsung pada lingkungan hidup mereka.
Sejak tahun 2017, wacana tentang pemanfaatan energi geothermal di kawasan Arjuno Welirang terus digulirkan.
Sosialisasi yang dilakukan berulang kali seolah-olah ingin menormalisasi gagasan bahwa energi geothermal adalah solusi hijau dan berkelanjutan bagi kebutuhan energi.
Namun, di balik narasi tersebut, ada banyak hal yang tidak disampaikan kepada publik. Energi geothermal, meskipun dianggap terbarukan, ternyata tidak sepenuhnya bebas risiko.
Kajian-kajian menunjukkan bahwa proyek geothermal dapat menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan.
Salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan debit dan volume air pada sumber-sumber air di sekitar pembangkit listrik geothermal.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengganggu produktivitas pertanian dan merusak suplai air ke daerah hilir.
Selain itu, pencemaran air sungai dan air tanah dangkal akibat residu yang dihasilkan dari proses geothermal juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan.