SketsaNusantara.id - Dalam tradisi Jawa, kepemimpinan tidak hanya diukur dari kekuasaan. Seorang pemimpin juga dinilai dari kemampuannya menjaga ucapan, keputusan, dan keteguhan sikap dalam menghadapi berbagai pengaruh.
Masyarakat Jawa sejak lama mengenal berbagai falsafah yang berkaitan dengan kepemimpinan. Petuah tersebut diwariskan turun-temurun sebagai pedoman moral bagi mereka yang memegang amanah dan tanggung jawab terhadap banyak orang.
Salah satu falsafah yang paling dikenal adalah Sabda Pandhita Ratu Tan Kena Wola-Wali. Ungkapan ini masih sering dikutip ketika membahas kualitas seorang pemimpin, baik dalam pemerintahan maupun kehidupan sehari-hari.
Secara harfiah, ungkapan tersebut dapat dimaknai bahwa ucapan seorang pemimpin tidak boleh berubah-ubah. Dalam budaya Jawa, seorang pemimpin ideal diharapkan mampu menjaga konsistensi antara perkataan, keputusan, dan tindakan.
Falsafah ini tidak hanya berbicara tentang janji. Maknanya juga berkaitan dengan kemampuan seorang pemimpin untuk tidak mudah terpengaruh oleh tekanan, hasutan, atau kepentingan sesaat yang dapat mengubah keputusan yang telah ditetapkan.
Dikutip dari buku Sabda Pandhita Ratu karya Sujamto yang terbit tahun 1991, dijelaskan bahwa ungkapan Sabda Pandhita Ratu Tan Kena Wola-Wali mengajarkan pemimpin agar konsekuen terhadap apa yang telah diucapkannya. Konsep tersebut dikaitkan dengan sifat menepati janji dan menjaga kepercayaan masyarakat.
Baca Juga: Arti Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan, Falsafah Jawa Ajaran Sunan Kalijaga
Di dalam pandangan Jawa, ketidakkonsistenan pemimpin dapat menimbulkan keraguan dari masyarakat. Ketika keputusan berubah terlalu sering tanpa dasar yang jelas, kepercayaan publik berpotensi berkurang.
Falsafah tersebut sering dipahami sebagai peringatan agar pemimpin tidak bersikap mencla-mencle. Istilah ini dalam budaya Jawa merujuk pada sikap yang mudah berubah pendirian atau mengikuti pengaruh yang datang dari berbagai arah.
Makna yang lebih luas juga terlihat dalam berbagai kajian kepemimpinan Jawa. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Universitas Syiah Kuala menjelaskan bahwa prinsip Sabda Pandhita Ratu merupakan salah satu landasan etika kepemimpinan Jawa.
Pelanggaran terhadap prinsip tersebut digambarkan dapat menimbulkan konsekuensi negatif terhadap integritas seorang pemimpin.
Dalam praktiknya, falsafah ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki pertimbangan yang matang sebelum mengambil keputusan. Setelah keputusan dibuat, ia diharapkan mampu mempertanggungjawabkannya secara konsisten.
Ajaran tersebut juga berkaitan dengan konsep "Bawa Laksana. Dalam tradisi Jawa, konsep ini menggambarkan kesatuan antara kata dan perbuatan. Apa yang diucapkan harus selaras dengan tindakan yang dilakukan.