Selain itu, konsep penjagaan alam terbaca dalam kisah Maryam dan Isa ketika bertempat tinggal, ada konsep rabwah dzati qororin dan ma-in dalam kisah tersebut. Surat Al Mu’minun ayat 50 menjelaskan, “Dan telah Kami jadikan (Isa) putera Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput (rabwatin dzati qaraarin) dan sumber-sumber air bersih yang mengalir (ma-in)”.
Tempat tinggal Isa dan bundanya berada di tempat yang mengandung isyarat perlunya penjagaan ekosistem. Tanah yang tinggi dan kaya sumber air. Para ulama berbeda pendapat tentang lokasi rabwah yang kaya air itu. Ada yang menyebut di Damasqus Suriah, Ramallah dan Baitul Maqdis di Palestina atau Mesir. Tafsir Al Qurtubi menambahkan satu pendapat bahwa rabwah itu adalah tempat yang memiliki buah-buahan sehingga menarik minat orang-orang untuk menempatinya.
Konsep Rabwah yang ada buah-buahannya juga padang rumput dengan mata air yang mengalir jernih (ma-in) jelas menggabungkan konsep kelestarian alam, ketahanan pangan, dan penjagaan dari bencana. Tanah tinggi yang disebut dalam kisah Isa dan Maryam ini seakan-akan menyindir kita bahwa di Indonesia hari ini bukit atau gunung yang tinggi justru tak lagi memberi air bersih ke bawahnya, tapi justru mengalirkan banjir bandang karena penggundulan hutan (deforestasi).***
*Penulis adalah pemerhati Sejarah Agama-Politik-Budaya
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!