Oleh: Mukani*
SketsaNusantara.id - Marsinah menjadi salah satu dari 40 nama yang diusulkan Menteri Sosial RI menjadi calon pahlawan nasional (CPN). Pengusulan tanggal 20 Oktober 2025 itu dilakukan setelah Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) pimpinan Prof. Usep Abdul Matin beberapa kali bersidang dan menyatakan nama-nama tersebut dinyatakan lolos. Dari Jawa Timur, selain Marsinah, ada nama Syaikhona Kholil Bangkalan, KH Bisri Syansuri, KH M Yusuf Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Dokumen pengusulan CPN itu sudah diserahkan oleh Menteri Sosial kepada Fadli Zon, Menteri Kebudayaan RI sekaligus ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan (GTK). Sebelumnya, hari Senin, 13 Oktober 2025, Bupati Nganjuk secara langsung menyerahkan dokumen pengusulan Marsinah sebagai CPN kepada Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, bertempat di Gedung Negara Grahadi Surabaya.
Martir Reformasi
Marsinah sosok pemuda dari desa yang ingin mengubah nasib di kota dengan menjadi pekerja di pabrik arloji PT Catur Putra Surya yang berlokasi di Porong Sidoarjo. Perempuan kelahiran 10 April 1969 ini berasal dari Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Nama anak pasangan Astin dan Sumini ini pada rezim Orde Baru dikenal sebagai aktivis pembela hak-hak kaum buruh sebelum diculik dan dibunuh. Jenazahnya ditemukan di tengah hutan Wilangan Nganjuk.
Dia meninggal dunia di usia masih sangat muda pada tanggal 8 Mei 1993. Ini setelah mengkoordinir rekan-rekannya sesama buruh untuk melakukan unjuk rasa dan mogok kerja beberapa hari sebelumnya. Tujuannya kala itu sederhana, menuntut kenaikan upah. Baru pada tanggal 5 Mei 1993 dia dinyatakan hilang.
Kasus Marsinah ini menjadi perhatian dunia internasional. Bahkan di tahun 1993 juga, nama Marsinah diberi penghargaan dari Yap Thiam Hien. Pembunuhan aktivis buruh Marsinah ini dicatat oleh International Labour Organization (ILO) dengan nomor 1773.
YLBHI Jakarta melakukan investigasi independen dan diterbitkan menjadi buku berjudul Marsinah: Campur Tangan Militer dan Politik Perburuhan (1999). Laporan investigasi serupa bisa ditemukan dalam buku Marsinah, Buruh Kecil Korban Pembunuhan yang diterbitkan Surabaya Metropolitan Pers maupun majalah Tempo edisi Oktober 1993. Bahkan film berjudul Marsinah, Cry Justice yang disutradarai Slamet Rahardjo Djarot sudah beredar sejak 2002.
Marsinah sekarang diabadikan menjadi nama jalan akses masuk ke kampung halamannya. Bahkan beberapa tahun lalu sudah didirikan patung monumen Marsinah di sisi selatan dari jalan nasional yang menghubungkan Surabaya-Yogyakarta. Tepatnya di seberang gapura jalan Marsinah. Tangan kirinya mengepal dengan tegak berdiri menghadap ke utara.
Sosok Marsinah diakui Agus Jabo Priyono (2025) sebagai martir reformasi, simbol keberanian dan suara buruh yang membangkitkan perubahan. Pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dikejar-kejar Orde Baru ini menyatakan bahwa Gerakan Reformasi 1998 tidak bisa dilepaskan dari gerakan Marsinah yang menjadi inspirasinya. Sosok Marsinah diakui Wakil Menteri Sosial RI ini punya kontribusi besar dalam sistem perpolitikan Indonesia dari ketidakadilan menuju demokrasi, karena telah melawan sistem yang menghisap para buruh.
Berbagai Rekor
Pengusulan nama Marsinah menjadi CPN akan mengukir beberapa catatan rekor sejarah di Indonesia. Hingga detik ini, belum ditemukan sosok pahlawan nasional yang perjuangannya spesifik dalam memperjuangkan kaum buruh. Nama Marsinah akan tampil menjadi yang pertama. Tidak heran jika pada peringatan hari buruh internasional 1 Mei 2025 kemarin, Presiden RI dalam pidatonya akan menyetujui jika ada usulan CPN dari kalangan kaum buruh.