Oleh: Mukani*
SketsaNusantara.id - Peringatan hari kesaktian Pancasila dilakukan setelah gagalnya kudeta berdarah yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI) di penghujung bulan September 1965. Untuk kesekian kali, Pancasila tetap kokoh dari rongrongan dan pebuatan keji para pemberontak. Meskipun beberapa Pahlawan Revolusi harus gugur dalam sejarah kelam perjalanan bangsa Indonesia.
Generasi muda yang berkiprah di Indonesia tentu tidak mengalami peristiwa pahit yang terjadi di Nusantara itu. Nilai-nilai Pancasila harus tetap dijaga dengan diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itu penting agar generasi muda Indonesia tidak kehilangan jati diri dalam membaca sejarah.
Arus Informasi
Jurgen Habermas mengindikasikan bahwa masa modern telah terbukti diawali dari titik tolak penggunaan iptek yang teraktualisasikan pada masa pencerahan kembali (enlightenment), dengan renaissance dan aufklarung sebagai ujung tombaknya. Modernisasi juga telah meletakkan sikap individualisme sebagai pusat dunia dengan menekankan kehidupan manusia sebagai sentral dari semua realitas (anthropocentris).
Fenomena ini merupakan ekses dari meredanya Perang Dingin, yang kemudian melahirkan tujuh peradaban besar dunia yang saling berhadap-hadapan untuk membangun kekuasaan, yaitu peradaban Barat, Confucian, Jepang, Islam, Hindu, Slavia-Ortodoks, Amerika Latin dan Afrika. Menurut Samuel P. Huntington, perubahan itu bergeser bukan kepada konflik ideologi, militer, politik dan ekonomi, namun pertarungan pada unsur peradaban (the clash of civilization).
Peradaban manusia sudah sampai kepada era yang tidak pernah dibayangkan nenek moyang pada periode sebelumnya. Kecanggihan teknologi dan arus deras modernisasi menjadi fenomena yang tidak bisa ditawar lagi. Gempuran informasi dari semua lini menjadi santapan sehari-hari bagi generasi muda era kini.
Generasi internet ini lahir bersamaan dengan kemunculan teknologi informasi dan komunikasi yang membuat mereka mengenal gawai, mengakses komputer dan memiliki sosial media. Hal tersebut membentuk karakter yang kreatif dan inovatif dalam pemanfaatan teknologi.
Baca Juga: Dari Tragedi Sengkon dan Karta: Menuju Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Petani Indonesia
Lekat dengan dunia maya, memiliki pengetahuan tinggi dalam menggunakan platform dan perangkat mobile, ternyata melahirkan titik lemah bagi para generasi internet. Titik lemah tersebut berdampak buruk terhadap keamanan generasi milenial di dunia maya.
Pengaruh modernisasi dan digitalisasi harus dimanfaatkan secara positif sehingga dapat menjadi agen membangun nasionalisme generasi muda, bukan sebaliknya. Digitalisasi dan modernisme jika tidak dapat ditangkap dalam kaca mata positif justru akan menjadi pemicu utama dan mempercepat perpecahan bangsa ini. Maka ide-ide guna mengatasi hal ini harus didukung semaksimal mungkin.
Kelangsungan hidup negara dan bangsa Indonesia mengharuskan semua pihak mampu memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila secara benar. Terutama para generasi muda agar mereka mampu menghayati dan mengamalkannya dengan baik dan bahkan mendekati sempurna.