sketsa

Spring Code Tamasya Halaman Belakang: Menyusun Ulang Ingatan Kota, Menghidupkan Memori Air, dan Merawat Solidaritas Ekologis Lewat Seni Kolektif

Senin, 29 September 2025 | 09:00 WIB
Nabila, salah satu anggota kolektif Tamasya Halaman Belakang, melakukan performa di rangkaian acara Spring Code (SketsaNusantara.id/ Zuhana Anibuddin Zuhro)

Jelajah Mata Air dan Ingatan yang Tertimbun

Hari kedua, 27 September, membawa peserta menjelajahi sumber-sumber mata air di wilayah Kecamatan Sumbersari bersama Yuda Prabowo dan Memet Sedekah Bumi. Jelajah ini membuka kesadaran bahwa banyak mata air di sekitar kota telah hilang, tertimbun bangunan, atau tercemar limbah.

Diskusi bertajuk “Ingatan Terjadi Sebelum Kran Dibuka” menjadi ruang refleksi. Judul itu mengingatkan kita bahwa hubungan manusia dengan air pernah lebih dalam daripada sekadar memutar keran. Yuda Prabowo, seorang aktivis lingkungan yang lama dikenal di Jember, tampil sebagai pembicara bersama nama-nama lain seperti Dwi Pranoto dan Erik Wijayanto. Dimoderatori oleh Natalius Yuda, Ia menceritakan kondisi mengenaskan banyak mata air di Jember, namun juga menawarkan harapan lewat keterlibatan komunitas.

Malam itu ditutup dengan penampilan jaranan oleh siswa-siswi SDN Karangrejo 6. Suara gamelan, gemeretak pecut, dan tarian magis anak-anak menghadirkan suasana yang sekaligus akrab dan mistis.

Baca Juga: Bersenang-senang di Panggung Kampung ala Kalisat Tempo Dulu Bersama Orkes Silampukau dan Kisah dari Negeri Arkipelagia

Di sudut lapangan, Nabila dan kawan-kawannya melakukan pertunjukan performatif. Ia menyalakan tumang, memasak dengan kayu bakar sambil mengajak audiens mencicipi sayur olahan tumbuhan liar. Pesan mereka jelas, ada banyak sumber pangan ada di sekitar kita, asal kita mau mengenali.

 Narasi Kota, Air, dan Kolektif

Spring Code bukan sekadar acara. Ia adalah ajakan untuk menyusun ulang narasi kota, air, dan kolektif. Jember, dengan sejarahnya yang diapit tiga kekuatan besar pada abad ke-18—Surapati, Blambangan, dan Mataram—pernah menjadi arena pertarungan politik, budaya, sekaligus ekologis. Penduduknya yang dikenal sebagai Wong Pinggir sering mengalami deportasi besar-besaran, seakan hanya menjadi pampasan perang.

Kini, di abad ke-21, pertarungan itu berubah wajah menjadi industrialisasi, kapitalisasi perkebunan, dan urbanisasi. Namun persoalannya tetap sama, yaitu tentang bagaimana masyarakat menjaga ruang hidupnya agar tidak sepenuhnya dikendalikan kepentingan luar.

Baca Juga: Konsisten 10 Tahun Merekam Ingatan, Sudut Kalisat kembali Menggelar Kalisat Tempo Dulu: Landskap Bercakap

Dengan Spring Code, Tamasya Halaman Belakang ingin menegaskan bahwa kota tidak boleh kehilangan ingatan tentang air. Karena air adalah syarat peradaban. Tanpa itu, Jember hanya akan menjadi kota yang kering secara ekologis maupun kultural.

Saat perjalanan pulang dari Karangrejo, terbersit sebuah pertanyaan, “Mungkinkah kita telah gagal dalam cara berpikir tentang kemajuan dan modernitas? Jika modernitas ekonomi hanya menjadikan ekologi sebagai yang terjajah, apakah konsep rasional kita sudah benar dan kokoh?”

Pertanyaan itu menancap dalam. Spring Code seakan menegaskan bahwa seni bukan hanya estetika, tetapi juga alat kritik dan refleksi. Seni bisa menjadi jembatan antara pengetahuan akademis, pengalaman masyarakat, dan intuisi ekologis.

Lebih dari sekadar festival, Spring Code menegaskan dirinya sebagai proses berkelanjutan. Ia adalah wacana dan praktik kreatif yang akan terus tumbuh, hidup, dan bergerak. Melalui seni, masyarakat diajak merayakan kehidupan, memperkuat solidaritas, sekaligus meneguhkan fondasi kebudayaan di tengah derasnya arus perubahan zaman.

Baca Juga: Prosesi Restu Ibu: Merawat Ingatan Kolektif bersama Sudut Kalisat Melalui Festival Kampung Lorstkal

Halaman:

Tags

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB