Jelajah Mata Air dan Ingatan yang Tertimbun
Hari kedua, 27 September, membawa peserta menjelajahi sumber-sumber mata air di wilayah Kecamatan Sumbersari bersama Yuda Prabowo dan Memet Sedekah Bumi. Jelajah ini membuka kesadaran bahwa banyak mata air di sekitar kota telah hilang, tertimbun bangunan, atau tercemar limbah.
Diskusi bertajuk “Ingatan Terjadi Sebelum Kran Dibuka” menjadi ruang refleksi. Judul itu mengingatkan kita bahwa hubungan manusia dengan air pernah lebih dalam daripada sekadar memutar keran. Yuda Prabowo, seorang aktivis lingkungan yang lama dikenal di Jember, tampil sebagai pembicara bersama nama-nama lain seperti Dwi Pranoto dan Erik Wijayanto. Dimoderatori oleh Natalius Yuda, Ia menceritakan kondisi mengenaskan banyak mata air di Jember, namun juga menawarkan harapan lewat keterlibatan komunitas.
Malam itu ditutup dengan penampilan jaranan oleh siswa-siswi SDN Karangrejo 6. Suara gamelan, gemeretak pecut, dan tarian magis anak-anak menghadirkan suasana yang sekaligus akrab dan mistis.
Di sudut lapangan, Nabila dan kawan-kawannya melakukan pertunjukan performatif. Ia menyalakan tumang, memasak dengan kayu bakar sambil mengajak audiens mencicipi sayur olahan tumbuhan liar. Pesan mereka jelas, ada banyak sumber pangan ada di sekitar kita, asal kita mau mengenali.
Narasi Kota, Air, dan Kolektif
Spring Code bukan sekadar acara. Ia adalah ajakan untuk menyusun ulang narasi kota, air, dan kolektif. Jember, dengan sejarahnya yang diapit tiga kekuatan besar pada abad ke-18—Surapati, Blambangan, dan Mataram—pernah menjadi arena pertarungan politik, budaya, sekaligus ekologis. Penduduknya yang dikenal sebagai Wong Pinggir sering mengalami deportasi besar-besaran, seakan hanya menjadi pampasan perang.
Kini, di abad ke-21, pertarungan itu berubah wajah menjadi industrialisasi, kapitalisasi perkebunan, dan urbanisasi. Namun persoalannya tetap sama, yaitu tentang bagaimana masyarakat menjaga ruang hidupnya agar tidak sepenuhnya dikendalikan kepentingan luar.
Dengan Spring Code, Tamasya Halaman Belakang ingin menegaskan bahwa kota tidak boleh kehilangan ingatan tentang air. Karena air adalah syarat peradaban. Tanpa itu, Jember hanya akan menjadi kota yang kering secara ekologis maupun kultural.
Saat perjalanan pulang dari Karangrejo, terbersit sebuah pertanyaan, “Mungkinkah kita telah gagal dalam cara berpikir tentang kemajuan dan modernitas? Jika modernitas ekonomi hanya menjadikan ekologi sebagai yang terjajah, apakah konsep rasional kita sudah benar dan kokoh?”
Pertanyaan itu menancap dalam. Spring Code seakan menegaskan bahwa seni bukan hanya estetika, tetapi juga alat kritik dan refleksi. Seni bisa menjadi jembatan antara pengetahuan akademis, pengalaman masyarakat, dan intuisi ekologis.
Lebih dari sekadar festival, Spring Code menegaskan dirinya sebagai proses berkelanjutan. Ia adalah wacana dan praktik kreatif yang akan terus tumbuh, hidup, dan bergerak. Melalui seni, masyarakat diajak merayakan kehidupan, memperkuat solidaritas, sekaligus meneguhkan fondasi kebudayaan di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Baca Juga: Prosesi Restu Ibu: Merawat Ingatan Kolektif bersama Sudut Kalisat Melalui Festival Kampung Lorstkal