Dalam sistem lama, enam hari belajar, anak masih memiliki jeda harian yang lebih seimbang. Kegiatan belajar yang dibagi lebih merata membuat beban harian anak lebih ringan. Mereka masih bisa mengikuti kegiatan olahraga, ekstrakurikuler, atau aktivitas sosial tanpa harus berbenturan dengan rasa lelah berlebihan. Dalam lima hari belajar, aktivitas non-akademis tersebut kerap tersisih karena sekolah sudah terlalu lama menyita waktu. Padahal, tumbuh kembang anak memerlukan keseimbangan antara stimulasi kognitif, fisik, sosial, dan emosional.
Ketidakseimbangan ini berdampak langsung pada kualitas perkembangan generasi.
Refleksi juga perlu dilakukan dengan mengaitkan kebijakan lima hari belajar dengan Catur Pusat Pendidikan. Konsep yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara ini menekankan bahwa pendidikan anak berlangsung dalam empat pusat utama, yakni keluarga, sekolah, masyarakat, dan diri anak itu sendiri. Dalam praktiknya, kebijakan lima hari belajar cenderung memusatkan aktivitas pendidikan hanya pada ranah sekolah, dengan mengorbankan peran tiga pusat lainnya.
Baca Juga: Kampung Moderasi Beragama di Jombang Peringati Maulid Nabi, Berharap Indonesia Segera Pulih
Keluarga sebagai pusat pendidikan pertama justru kehilangan ruang karena anak terlalu lelah untuk membangun komunikasi yang intensif dengan orang tua. Waktu kebersamaan yang mestinya digunakan untuk menanamkan nilai, bercerita, atau sekadar membangun ikatan emosional menjadi terbatas. Masyarakat sebagai pusat pendidikan juga tidak mendapat tempat karena waktu luang anak habis untuk istirahat. Kegiatan-kegiatan sosial, keagamaan, atau budaya yang biasanya memberi warna pendidikan karakter tidak lagi terjangkau. Bahkan diri anak itu sendiri, sebagai pusat pendidikan yang memungkinkan mereka mengeksplorasi minat, bakat, dan refleksi personal, tidak mendapatkan porsi karena mereka terjebak dalam rutinitas yang terlalu padat.
Sistem enam hari belajar
Hal ini berbanding terbalik dengan sistem enam hari belajar yang lebih proporsional. Dengan beban harian lebih ringan, anak masih memiliki energi untuk hidup dalam keseimbangan keempat pusat pendidikan tersebut. Mereka bisa belajar di sekolah, berinteraksi sehat dengan keluarga, berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, dan memiliki waktu untuk diri sendiri. Inilah wujud pendidikan yang lebih menyeluruh, tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga tumbuh kembang anak secara utuh.
Dampak jangka panjang dari pemaksaan lima hari belajar terhadap tumbuh kembang anak tidak bisa dipandang remeh. Anak yang tumbuh dalam tekanan waktu panjang cenderung lebih rentan mengalami stres, kehilangan motivasi belajar, dan menunjukkan gejala kejenuhan lebih dini.
Dalam buku Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (Syamsu Yusuf LN.) menjelaskan, tekanan berlebihan dalam proses belajar dapat menimbulkan stres pada anak serta memengaruhi motivasi dan kesehatan emosionalnya. Padahal, pendidikan seharusnya menjadi pengalaman yang membahagiakan, yang memberi ruang bagi anak untuk menemukan makna, bukan sekadar beban yang harus dijalani.
Refleksi kritis ini menuntun kita pada sebuah kesimpulan penting, bahwa kebijakan lima hari belajar, meskipun lahir dari niat baik, tidak sejalan dengan kebutuhan tumbuh kembang anak Indonesia. Alih-alih menjadi solusi, kebijakan ini justru menimbulkan persoalan baru. Jika tujuan utama adalah memperkuat pendidikan karakter dan kualitas pembelajaran, maka langkah yang lebih tepat adalah kembali kepada enam hari belajar dengan distribusi beban yang lebih proporsional.
Enam hari belajar bukan berarti menambah tekanan pada anak, tetapi justru membagi beban dengan lebih seimbang. Dengan waktu yang lebih merata, anak-anak tidak harus mengorbankan kebutuhan sosial, emosional, dan fisik mereka. Pendidikan karakter pun bisa lebih mudah diwujudkan karena ruang keluarga, masyarakat, dan diri anak sendiri tetap memiliki tempat dalam proses pendidikan.
Dalam kerangka Catur Pusat Pendidikan, sistem enam hari memberi keseimbangan peran bagi keluarga, sekolah, masyarakat, dan diri anak. Sekolah tidak lagi menjadi satu-satunya pusat, melainkan bagian dari ekosistem yang saling melengkapi. Anak-anak pun dapat tumbuh lebih sehat, lebih seimbang, dan lebih bahagia.
Pendidikan kemudian benar-benar menjadi alat pembentukan generasi, bukan sekadar rutinitas belajar yang memenjarakan mereka dalam jadwal yang padat.