Serta, yang paling penting ialah tentang menjaga rumah ini tetap nyaman bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh ingin belajar.
Bersama Para Penulis Lintas Generasi
Di sini, penulis lintas generasi berdatangan. Ada yang baru lulus kuliah, terbiasa menulis status media sosial panjang-panjang, berharap bisa segera menghasilkan dari menulis.
Ada yang sudah lama menulis di blog atau bahkan kerap menerbitkan buku, tapi gagap ketika diminta memperhatikan SEO.
Ada pula yang cepat tersinggung saat tulisannya dikoreksi, lalu menuding sistemnya yang salah, bukan dirinya yang malas membaca.
Tantangan terbesar bukan hanya pada teknis. Bukan cuma soal menyusun headline yang memikat atau memilih keyword yang tepat.
Tantangan sejatinya ada pada cara membimbing mereka untuk membaca dulu sebelum menulis. Membaca aturan main. Membaca data. Membaca tanda-tanda zaman.
Sebab, banyak yang ingin menulis, tetapi sedikit yang mau belajar membaca.
Menaklukkan Algoritma, Menemani Anak
Sementara itu, di sisi lain layar, algoritma Google terus berubah. Apa yang berhasil minggu lalu, hari ini mungkin sudah tak berlaku lagi.
Seorang editor belajar untuk tidak jatuh cinta pada satu strategi. Belajar untuk lentur. Mencoba lagi, membaca, menganalisis, lagi, lagi, dan lagi.
Dan semua itu dilakukan sambil tetap menjadi ayah. Sambil menemani anak belajar berjalan, bermain, bernyanyi, dan kini menjawab celotehan-celotehan pertanyaan darinya.
Salah satunya, kenapa ayahnya tiap hari hanya duduk depan laptop di kamar? Kenapa ayah tidak bekerja di kantor seperti itu?
Lalu ia mundur surut ke belakang tampak ketakutan melihat ekspresi sang ayah yang menahan emosi gara-gara ulah CC yang berulangkali melakukan kesalahan.
Ya, itulah konsekuensi bekerja di rumah. Harus mampu mengelola emosi agar peran sebagai babysitter yang hangat dan sekaligus editor yang garang tidak tertukar.