sketsa

Jawa Timur dalam Cengkeraman Krisis Ekologis, Dari Luka Alam ke Agenda Perubahan

Kamis, 19 Juni 2025 | 21:00 WIB
Kholisatul Hasanah

Tapal Kuda: Hutan Direbut, Petani Dikriminalisasi

Wilayah Tapal Kuda—Jember, Situbondo, Lumajang—di berbagai tempatnya jadi saksi konflik antara petani dan Perhutani. Warga yang sejak lama mengelola hutan dituduh sebagai perambah, bahkan dikriminalisasi. Sementara korporasi justru diberi izin menebang dan menggali. Ini bentuk ketidakadilan yang dilegalkan negara.

Sudah saatnya pemerintah hadir untuk mengaudit semua izin kehutanan dan tambang alias dilakukan ulang. Hak kelola hutan harus dikembalikan ke masyarakat, bukan sekadar lewat skema administratif, tapi dengan jaminan partisipasi dan hak penuh warga. Petani hutan juga harus segera didekriminalisasi.

Tapal Kuda adalah simbol. Simbol bahwa perjuangan rakyat atas ruang hidup belum selesai. Dan KOPRI harus hadir, bukan cuma sebagai pendamping hukum, tapi juga sebagai pendengar, penguat, dan penggerak perubahan.

Penutup: KOPRI dan Agenda Perubahan Ekologis Jawa Timur

Krisis ekologis di Jawa Timur ini bukan sekadar deretan tragedi yang akan menjadi momok bagi masyarakatnya. Ini cerminan dari ketimpangan struktural dan ketidakpedulian negara terhadap keadilan ekologis. Tapi di balik semua itu, selalu ada harapan perubahan—asal kita mau bergerak dan menyusun kekuatan dari bawah.

Misi keempat saya sebagai calon Ketua KOPRI PKC adalah memastikan bahwa KOPRI nggak cuma hadir di ruang diskusi, tapi juga di medan juang. Jadi mitra kritis yang nggak cuma mencatat, tapi juga merumuskan solusi. Sementara misi kelima bicara tentang pentingnya konsolidasi zonasi, supaya semua wilayah—terutama yang terdampak krisis ekologis—mendapat perhatian dan standar gerakan yang setara.

Maka dari itu semua, sudah waktunya sekarang KOPRI tampil di garis depan perjuangan sosial-ekologis. Kita perlu bangun forum advokasi lintas zona, rumuskan kebijakan alternatif dari bawah, dan perkuat aliansi strategis dengan akademisi, jurnalis, serta pembela hukum. Melihat fakta-fakta yang sudah ada, bumi nggak akan diselamatkan oleh negara atau pasar. Bumi hanya bisa dijaga oleh mereka yang hidup bersamanya—rakyat, komunitas, dan anak cucu kita.***

*Penulis adalah Calon Ketua Kopri PKC Jawa Timur

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini

Halaman:

Tags

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB