sketsa

Refleksi Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2025, Pemuda dan Ancaman Disintegrasi Bangsa

Selasa, 20 Mei 2025 | 18:55 WIB
Mukani. (Dok. SketsaNusantara.id )

Pemuda juga merupakan sumber daya manusia pembangunan yang akan menggantikan generasi sebelumnya. Jumlah penambahan lapangan pekerjaan di setiap tahun belum mengimbangi banyaknya kelahiran. Faktor bonus demografis disinyalir menyebabkan makin sulitnya bekerja.

Menurut Mulyana (2011), dengan karakter dinamis, pemuda bisa memiliki karakter yang bergejolak, optimis dan belum mampu mengendalikan emosi yang stabil. Tidak heran jika pemuda masa sekarang berbeda jauh dengan kondisi saat Boedi Oetomo didirikan. Saat ini kecanggihan teknologi dikhawatirkan menggerus jiwa pemuda.

Potensi Remaja

Fenomena ini, menurut Ngainun Naim (2024), sesungguhnya menyediakan ruang bagi kita untuk melakukan refleksi dalam makna yang substantif. Teknologi memang telah menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan. Meskipun demikian, kita seharusnya memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Bukan justru terhegemoni dan tidak menjadi manusia yang kreatif.

Baca Juga: Pemuda Pancasila Disebut Menolak Nama Pramoedya Ananta Toer Jadi Nama Jalan di Blora, Singgung Soal Tokoh Radikal Kiri?

Sebagai alternatif solusi, mengikuti pendapat Rajasa (2007), pemuda harus tetap mengembangkan karakter nasionalisme demi mempertahankan identitas nasional. Baik sebagai pembangun karakter (character builder), pemberdayaan karakter (character enabler) maupun perekayasa karakter (character engineer).

Ini karena identitas nasional, menurut Baso Madiong (2018), adalah jati diri atau kepribadian bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa lain. Identitas nasional sendiri terbentuk karena ada dukungan dari berbagai unsur, seperti asal keturunan, suku, agama, bahasa, budaya dan sejarah. 

 Baca Juga: Remaja, Media Sosial, dan Identitas Nasional

Melalui upaya kuat dari para pemuda dalam mempertahakan identitas nasional, diharapkan dampak negatif dari gempuran kecanggihan teknologi diminimalisasi. Namun justru remaja berkontribusi positif bagi kehidupan berbangsa, baik memperkuat rasa kebanggaan, membangun solidaritas, mempromosikan pembangunan, mempertahankan kedaulatan maupun mempromosikan hubungan antarbangsa.

Dengan identitas nasional yang terus melekat pada diri pemuda selaku generasi penerus, maka mereka akan memiliki jati diri yang membedakannya dengan bangsa lain. Itu menjadi kekuatan masyarakat dalam mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia. Sehingga ancaman disintegrasi bangsa tidak akan menjadi nyata. Semoga.***

* Dosen STIT Urwatul Wutsqo Bulurejo Jombang

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB